4 Pilar Kebangsaan Indonesia : Pengertian, Isi, Sejarah Dan Pencetusnya Lengkap

Posted on
5 (100%) 1 vote[s]

Pengertian 4 Pilar Kebangsaan Indonesia, Isi, Sejarah dan Pencetusnya

Pilar Negara – Apa yang dimaksud dengan pilar negara atau pilar kebangsaan? Pilar negara atau pilar kebangsaan adalah sebuah tiang penyangga yang kokoh, atau sebagai Soko Guru rakyat Indonesia yang merasa nyaman, aman, tentram dan sejahtera. Serta terhindar dari beragam gangguan dan bencana apapun.

Di dalam suatu negara terdapat keyakinan dan filosofi yang di dalamnya berisi konsep, prinsip, dan nilai yang dianut oleh masyarakat di suatu negara. Filosofi dan prinsip keyakinan tersebut dianut oleh suatu negara, dan digunakan untuk sebuah landasan hidup yang bermasyarakat, berbangsa dan juga bernegara.

Pilar kebangsaan tentu harus bersifat kokoh dan juga kuat. Agar mampu menangkal beragam bentuk ancaman atau gangguan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Pilar kebangsaan Indonesia, berupa suatu belief sistem yang mampu menjamin ketertiban, keamanan, kenyamanan, keadilan, dan kesejahteraan, seluruh warga negara Indonesia.

Isi 4 Pilar Kebangsaan

1. Pilar Pancasila

Pancasila adalah pilar pertama dalam mengokohkan bangsa Indonesia. Pemikiran dasarnya adalah mengapa pancasila dapat berperan sebagai pilar kehidupan seluruh bangsa Indonesia. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang terdapat dalam sila pancasila yang menjadi belief sistem yang mampu mengakomodir keanekaragaman itu sendiri. pancasila dianggap sebagai pilar negara Indonesia, yang bersifat pluralistik.

Baca Juga :   Teks Proklamasi Asli Kemerdekaan Indonesia

Seperti halnya sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini bisa diterima dan diakui oleh semua agama yang diakui oleh Indonesia. Serta bisa menjadi common denominator. Sedangkan yang terdapat di sila yang kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bermakna sebagai pernyataan penghormatan pada setiap Hak Asasi Manusia. Seluruh warga negara memiliki harkat dan martabat yang sama, dengan adil dan beradab.

2. Pilar UUD 1945

Pilar yang kedua adalah UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Masyarakat Indonesia tentu harus memahami makna yang ada di pembukaan undang-undang tersebut. jika tidak memahami bagaimana prinsip yang ada di pembukaan UUD 1945, maka tidak akan mungkin mampu melakukan evaluasi pada pasal yang ada di batang tubuh UUD yang menjadi derivatnya.

3. Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia

Di dunia ini ada banyak bentuk negara. Sedangkan para pendiri bangsa Indonesia memilih negara kesatuan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para pendiri bangsa tersebut memilih negara kesatuan ini dengan penuh pertimbangan. Alasan utamanya adalah karena sejarah dalam strategi pecah belah yang dilakukan oleh Belanda, dapar berhasil karena Indonesia belum bersatu di masa penjajahan tersebut.

Terbukti dengan sesudah bangsa Indonesia membentuk negara kesatuan, taktik pecah belah itu mampu diatasi dan dipatahkan. Itulah yang pada akhirnya menjadi dasar para pendiri bangsa mendirikan negara kesatuan.

4. Pilar Bhineka Tunggal Ika

Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang diungkapkan pertama kali oleh Mpu Tantular. Yaitu seorang pujangga yang berasal dari kerajaan Majapahit di pemerintahan Raja Hayamwuruk pada tahun 1350-1389.

Semboyan itu akhirnya dituangkan ke dalam karya dari Mpu Tantular yang berjudul Kakawin Sutasoma. Di masa pemerintahan itu kerajaan Majapahit menjadikan semboyan tersebut, untuk menjadi prinsip hidup mereka. Hal itu menjadi cara dalam mengantisipasi perpecahan yang ada di masyarakat, yang memang memiliki keanekaragaman agama. Walaupun mereka memiliki agama yang berbeda-beda, tetapi mereka satu dalam pengabdian.

Baca Juga :   PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) : Latar Belakang Berdirinya, Tujuan, Asas Organisasi dan Struktur Organisasi Lengkap

Pendapat Para Ahli Mengenai Pilar 4 Kebangsaan

Bapak Taufik Kiemas adalah salah satu pencetus pilar negara kebangsaan Indonesia. Pada tahun 2013 Beliau pun mewakili lembaga negara dengan mendapat gelar kehormatan doctor honoris apertura (H.C). yang berasal dari Universitas Trisakti. Hal itu ia peroleh karena perannya dalam mencetuskan gagasan sosialisasi 4 pilar kebangsaan Indonesia.

Gagasan dan sosialisasi dari 4 pilar kebangsaan ini mendapatkan perhatian dari banyak orang yang berasal dari berbagai kalangan. Termasuk para ahli yang terkait. Sejumlah kalangan tersebut menyebutkan bahwa pancasila adalah pilar kebangsaan, tetapi peran pancasila adalah sebagai pondasi yang paling dasar.

Ada juga pihak yang menyebutkan bahwa sosialisasi dari 4 pilar kebangsaan ini, tak perlu dijadikan doktrin. Karena hal itu malah akan membuat para pelajar memiliki hapalan hanya 4 pilar tersebut saja. Dan pancasila hanya salah satu dari pilar tersebut. menurut mereka 4 pilar kebangsaan secara psikologis cukup berbahaya bagi kelestarian pancasila.

Menjaga 4 Pilar Kebangsaan

Dalam menjaga 4 pilar kebangsaan yang ada, dibutuhkan beberapa macam pendekatan khusus. Antara lain pendekatan Kultural, Pendekatan Edukatif, Hukum, dan Struktural. Berikut penjelasan lengkapnya :

1. Pendekatan kultural

Pendekatan yang dilakukan dengan cara memperkenalkan budaya dan juga kearifan lokal. Yang tentunya lebih mendalam untuk para generasi muda. Tujuannya adalah untuk membentuk generasi muda, yang mengedepankan norma dan budaya sebuah bangsa.

Pembangunan dan juga teknologi bisa berjalan dengan baik, dengan memerhatikan potensi dan kekayaan budaya di negara Indonesia tanpa mengeliminasi sejumlah adat istiadat yang sudah ada.

2. Pendekatan edukatif

Pendekatan ini sangat dibutuhkan untuk memberi pendidikan yang layak pada seluruh generasi penerus bangsa. Hal ini juga diharapkan akan bisa mengurangi tindak kriminal, yang sering dilakukan oleh para generasi muda. Sekolah dan orang tua harus memberi wadah yang baik dan positif dalam menyalurkan ide, an kreatifitas untuk hal-hal yang positif.

Baca Juga :   Bela Negara : Pengertian, Unsur, Fungsi, Tujuuan, Dan Manfaatnya Lengkap

3. Pendekatan hukum

Hal ini menjadi tindakan yang tegas pada segala tindak kekerasan, misalnya saja tawuran, bully dan lain sebagainya. Norma hukum hanya berfungsi jika ditegakkan dengan cara yang tegas, yang akan memberi efek jera bagi para pelaku tindak kriminal tersebut.

4. Pendekatan struktural

Pendekatan ini biasanya dimulai dari Ketua Rukun Tetangga, Rukun Warga, kepala desa, camat, lurah sampai bupati/wali kota sampai gubernur. Beberapa kegiatan akan dapat mempersatukan masyarakat, yang diupayakan oleh para lembaga sosial dan aparatur dari negara tersebut.

Demikian penjelasan lengkap dari pilar negara, bukan hanya untuk dipahami tetapi juga agar dapat dijaga agar pilar tersebut tetap berdiri dengan kokoh. Semoga bermanfaat.

Baca Juga :