Ciri-Ciri Discovery Learning : Pengertian Dan Karakteristiknya Lengkap

Posted on
5 (100%) 1 vote[s]

Ciri-Ciri Discovery Learning : Pengertian Dan Karakteristiknya Lengkap

Ciri-Ciri Discovery Learning – Metode discovery learning merupakan teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran, yang akan terjadi apabila pelajar tidak disajikan pelajaran dalam bentuk final. Namun ia diharapkan dapat mengorganisasi sendiri pelajaran tersebut. seperti pendapat Burner, “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Dasar dari ide Brunner tersebut adalah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa seorang anak harus memiliki peran yang aktif di dalam kelas.

Ciri-Ciri Discovery Learning

Brunner juga menggunakan metode yang disebut dengan discovery learning, yang dimana murid akan mengorganisasi bahan yang dipelajarinya dalam bentuk akhir. Metode discovery learning ini adalah memahami konsep, arti dan juga hubungan yang melalui proses intuitif agar akhirnya bisa sampai pada sebuah kesimpulan. Discovery juga terjadi pada saat individu terlibat, khususnya dalam penggunaan proses mentalnya dalam menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery juga akan dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses itu juga disebut dengan cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).

Sebagai strategi belajar discovery learning ini memiliki prinsip yang sama dengan inkuiry, dan problem solving. Tak ada perbedaan yang prinsipil dalam istilah tersebut, di dalam discovery learning lebih ditekankan pada ditemukannya konsep/prinsip yang belum diketahui. Perbedaannya dengan discovery adalah discovery masalah yang dihadapkan pada siswa, semacam masalah rekayasa dari guru, dan inkuiri masalahanya bukan hasil dari rekayasa. Sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya dalam mendapatkan temuan, di dalam masalah tersebut melalui proses penelitian.

Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Problem solving lebih menekankan pada kemampuan dalam menyelesaikan masalah. Namun prinsip belajar yang tampak jelas di dalam discovery learning, merupakan materi atau bahan belajar yang akan disampaikan tidak akan disampaikan dalam bentuk final. Sehingga siswa akan didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui, dan dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri lalu mengorganisasi atau membentuk apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam bentuk akhir.

Dengan mengaplikasikan discovery learning secara berulang, maka hal itu bisa meningkatkan kemampuan penemuan diri pada individu yang bersangkutan. Penggunaan metode ini, ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan juga kreatif. Mengubah pembelajaran teacher oriented ke student oriented. Dengan mengubah modus ekspositori siswa yang hanya menerima infomasi keseluruhan, dari guru ke modus discovery siswa yang menemukan informasinya sendiri.

Ciri-Ciri Discovery Learning

Model pembelajaran penemuan ini memiliki tiga ciri utama, diantaranya :

  1. Mengeksplorasi serta memecahkan masalah dalam menciptakan, menggabungkan, dan juga menggeneralisasi pengetahuan,
  2. Berpusat pada setiap peserta didik.
  3. Kegiatan dalam menggabungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah ada.

Karakteristik Discovery Learning

Karakteristik dari discovery learning diantaranya yaitu :

  1. Peran guru sebagai pembimbing.
  2. Peserta didik belajar yang aktif sebagai seorang ilmuwan.
  3. Bahan ajar yang disajikan dalam bentuk informasi dan juga peserta didik yang melakukan kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, serta membuat   kesimpulan.

Konsep Model Pembejalaran Penemuan

Di dalam konsep belajar ini sesungguhnya metode ini merupakan pembentukan pada kategori atau konsep, yang bisa memungkinkan terjadinya generalisasi. Sebagaimana teori Brunner, mengenai kategorisasi dalam discovery, atau yang sering disebut dengan sistem coding. Pembentukan kategori dan sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi yang terjadi diantara objek dan kejadian.

Brunner memandang bahwa konsep atau kategorisasi mempunyai lima unsur, yang bisa dikatakan bahwa siswa memahami konsep jika semua unsur di dalam konsep tersebut meliputi :

1) Nama

2) Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif

3) Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak

4) Rentangan karakteristik

5) Kaidah

Brunner juga menjelaskan bahwa pembentukan konsep adalah dua kegiatan yang mengkategorikan dua hal yang berbeda, yang juga menuntut proses berpikir yang berbeda. Semua kegiatan yang mengkategorikan meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu.

Baca Juga :   11 Cara Rahasia Menjadi orang Sukses Menurut Ahli

Di dalam proses belajar Brunner mementingkan partisipasi yang aktif dari setiap siswa, serta mengenal baik bagaimana kemampuannya. Untuk menunjang proses belajar, dibutuhkan lingkungan yang memfasilitasi rasa ingin tahu dari siswa di setiap tahap eksplorasi. Lingkungan tersebut dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu lingkungan yang dimana siswanya bisa melakukan eksplorasi serta penemuan baru yang belum dikenal. Atau pengertian yang mirip dengan yang telah diketahui. Lingkungan ini bertujuan supaya siswa bisa berjalan dengan baik dan kreatif di dalam proses belajarnya.

Dalam memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasar pada manipulasi bahan pelajaran, yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswanya. Manipulasi bahan pelajaran ini tujuannya adalah untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berpikir, atau mempresentasikan apa yang dipahami. Yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Menurut Brunner perkembangan kognitif pada seseorang dapat terjadi melalui tiga tahap, yang ditentukan oleh bagaimana keadaan lingkungannya yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Tahap enaktive adalah seseorang yang melakukan aktivitas di dalam upaya memahami lingkungan sekitarnya, yang artinya memahami dunia sekitar anak dengan menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic adalah seseorang yang memahami dunia sekitar anak belajar yang melalui bentuk perumpamaannya dan perbandingannya. Sedangkan tahap simbolc adalah seseorang yang sudah mampu mempunyai ide dan gagasan yang abstrak, yang dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan berlogika. Di dalam memahami dunia sekitar anak belajar dengan melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.

Komunikasi dilakukan dengan menggunakan banyak simbol, yang dimana semakin matang seseorang dalam proses berpikir maka akan semakin matang juga sistem simbolnya. Sederhananya teori perkembangan di dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah saat anak menjelaskan sesuatu yang melalui perbuatan, ia akan bergeser ke depan/belakang di papan mainan dengan menyesuaikan beratnya teman bermainnya. Itulah yang dinamakan fase inacvtive. Dan pada fase iconic ia akan menjelaskan keseimbangan pada gambar/bagan lalu akhirnya menggunakan bahasa, untuk menjelaskan prinsip keseimbangan pada fase simbolic. (Syaodih, 85:2001).

Di dalam mengaplikasikan metode discover learning, guru berperan sebagai pembimbing dengan memberi kesempatan pada siswa untuk belajar lebih aktif. Sebagaimana pendapat dari guru yang harus bisa membimbing serta mengarahkan kegiatan belajar siswa, yang sesuai dengan tujuannya. (Sardiman, 2005:145). Kondisi tersebut ingin merubah kegiatan belajar mengajar menjadi yang teacher oriented menjadi student oriented.

Hal yang menarik pada pendapat Brunner yang menyebutkan bahwa guru harus memberi kesempatan pada muridnya, untuk menjadi problem solver adalah seorang scientis, historin, atau ahli matematika. Di dalam metode discovery learning ini bahan ajar tidak akan disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa akan dituntut untuk melakukan kegiatan misalnya dalam menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan. Hal itu akan memungkinkan siswa dalam menemukan arti bagi diri mereka sendiri, serta memungkinkan mereka dalam mempelajari konsep di dalam bahasa yang mereka mengerti sendiri. Sehingga guru dalam mengaplikasikan metode discovery learning, harus bisa menempatkan siswa dalam kesempatan belajar yang mandiri. Brunner juga mengatakan proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif, bila guru memberikan kesempatan kepada siswa dalam menemukan konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41).

Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode ini dalam mengajar adalah setelah tingkat inisial atau permulaan mengajar, bimbingan guru lebih berkurang pada beberapa metode mengajar yang lainnya. Hal ini tidak berarti bahwa guru akan menghentikan memberi bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan yang diberikan tak hanya dikurangi direktifnya, tetapi siswa diberi responsibilitas yang lebih belajar untuk dapat belajar sendiri.

Kelebihan Dan Kelemahan Penerapan Discovery Learning

Kelebihan dalam penerapan metode discovery learning diantaranya yaitu :

  1. Untuk membantu para siswa dalam memperbaiki serta meningkatkan keterampilan serta proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci di dalam proses ini, dan seseorang yang bergantung pada cara belajarnya.
  2. Pengetahuan yang didapatkan melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan serta transfer.
  3. Menimbulkan rasa senang pada siswa karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
  4. Metode ini juga akan memungkinkan siswa berkembang dengan cepat, dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
  5. Menyebabkan siswa dapat mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akal dan motivasinya sendiri.
  6. Metode ini akan membantu siswa dalam menguatkan konsep diri, karena mendapat kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  7. Berpusat pada guru dan siswa dan berperan aktif untuk sama-sama mengelaurkan gagasan. Guru juga dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti dalam sebuah situasi diskusi.
  8. Membantu siswa dalam menghilangkan skeptisme atau ragu-ragu karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  9. Siswa akan mengerti konsep dasar serta ide yang lebih baik.
  10. Membantu dan mengembangkan ingatan serta transfer pada situasi proses belajar yang baru.
  11. Mendorong siswa dalam berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
  12. Mendorong siswa dalam berpikir intuisi serta merumuskan hipotesisnya sendiri.
  13. Memberi keputusan yang sifatnya intrinsic.
  14. Situasi proses belajar akan menjadi lebih terangsang.
  15. Proses belajar meliputi sesama aspek siswa yang menuju pada pembentukan manusia yang seutuhnya.
  16. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
  17. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
  18. Bisa mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Baca Juga :   Pengertian Laut : Definisi. Jenis, Macam, Fungsi dan Manfaatnya Lengkap

Kelemahan Dalam Penerapan Metode Pembelajaran Discovery Learning

  1. Metode ini dapat menimbulkan asumsi bahwa adanya kesiapan dalam pikiran dan belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, tentu akan mengalami kesulitan yang abstrak atau berpikir atau mengungkapkan hubungan diantara konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga akan menimbulkan frustasi saat gilirannya tiba,
  2. Metode ini tidak efisien dalam mengajar siswa yang sangat banyak, karena memerlukan waktu yang lama dalam membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah yang lainnya.
  3. Harapan yang terkandung di dalam metode ini buyar saat berhadapan dengan siswa dan guru, yang sudah terbiasa dengan cara belajar yang lama.
  4. Pengajaran discovery juga cocok dalam mengembangkan pemahaman, sedengkan untuk mengembangkan aspek konsep, keterampilan serta emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
  5. Dalam beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas dalam mengukur gagasan yang dikemukakan oleh siswa.
  6. Tidak menyediakan kesempatan dalam berpikir yang akan ditemukan siswa karena sudah dipilih dan terpilih terlebih dahulu.

Langkah Penerapan Dalam Metode Discovery Learning

Persiapan menuju metode discovery learning

  1. Menentukan tujuan pembelajarannya.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik dari para siswa contohnya kemampuan awal, minat, gaya   belajar, dan sebagainya
  3. Memilih materi pelajaran.
  4. Menentukan topik yang harus dipelajari siswa dengan cara induktif misalnya dari contoh generalisasi.
  5. Mengembangkan bahan belajar yang berupa contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
  6. Mengatur topik pelajaran dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang konkret sampai abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar para siswa.

Pelaksanaan metode pembelajaran penemuan

1. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Di tahap ini pelajar akan dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan, lalu dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi supaya timbul keinginan untuk menyelidiki diri sendiri. Guru juga bisa mulai kegiatan PBM, dengan mengajukan pertanyaan, menganjurkan membaca buku, serta aktivitas lainnya yang mengarah pada pemecahan masalah. Stimulasi di tahap ini fungsinya adalah untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang bisa mengembangkan dan membantu siswa, dalam mengeksplorasi bahannya.

2. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru yang memberi kesempatan pada siswa, dalam mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, lalu salah satunya dipilih serta dirumuskan ke dalam bentuk hipotesis atau jawaban sementara atas pertanyaan suatu masalah.

3. Data collection (Pengumpulan Data)

Saat eksplorasi berlangsung guru juga akan memberi kesempatan pada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan, dan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Di tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan dan membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik akan diberi kesempatan untuk mengumpulkan beragam informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

4. Data Processing (Pengolahan Data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data adalah kegiatan dalam mengolah data, serta informasi yang sudah didapatkan para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Setiap informasi dari hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, harus dihitung dengan cara tertentu dan ditafsirkan dalam tingkat kepercayaan tertentu.

Baca Juga :   Ciri-Ciri Pembelajaran Dalam Pendidikan - Pengertian, Prinsip dan Langkahnya Lengkap

5. Verification (Pembuktian)

Di tahap ini siswa melakukan pemeriksaan dengan cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, yang ditetapkan dengan hasil temuan yang alternatif. Yang dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verifikasi menurut Brunner tujuannya adalah supaya proses belajar bisa berjalan dengan baik dan kreatif, bila guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menemukan konsep, teori, atau aturan pemahaman dengan melalui contoh yang dijumpai di dalam kehidupan.

6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap ini adalah menarik kesimpulan yang dijadikan prinsip umum, dan berlaku untuk setiap kejadian atau masalah yang sama dengan memperlihatkan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasar hasil verifikasi tersebut dirumuskan prinsip yang mendasari generalisasi.

7. Sistem Penilaian Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Di dalam metode ini penilaian bisa dilakukan dengan menggunakan tes atau non tes, dan penilaian yang digunakan bisa berupa penilaian kognitif,  proses,  sikap,  atau penilaian  hasil  kerja  siswa.  Bila bentuk penilaiannya berupa penilaian kognitif, maka di dalam model pembelajaran discovery learning bisa menggunakan tes tertulis. Bila bentuk penilaiannya menggunakan penilaian  proses,  sikap,  atau  penilaian  hasil  kerja  siswa, maka pelaksanaan penilaian bisa menggunakan contoh format penilaian seperti di bawah ini :

1. Penilaian tertulis

Yaitu tes yang dimana soal dan jawabannya diberikan pada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban, tapi juga dalam bentuk lainnya misalnya tanda, mewarnai,  menggambar  dan  lain  sebagainya. Ada dua bentuk soal tes tertulis yaitu seperti berikut :

  1. Soal dengan memilih jawaban.
  • pilihan ganda
  • dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
  • menjodohkan
  1. Soal dengan mensuplai-jawaban.
  • isian atau melengkapi
  • jawaban singkat
  • soal uraian

Dari berbagai alat penilaian tertulis itu tes memilih jawaban benar atau salah, isian singkat, dan menjodohkan adalah alat yang hanya menilai kemampuan dalam berpikir rendah yaitu kemampuan meningat pengetahuan. Tes pilihan ganda bisa digunakan untuk menilai kemampuan dalam mengingat dan memahami. Pilihan ganda juga mempunyai kelemhan, yaitu peserta didik yang tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung memilih jawaban yang benar dan bila peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar maka mereka akan menerka-nerka.

Hal itu akan menimbulkan kecenderungan pada peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran, tetapi menghafalkan soal dan jawabannya saja. Alat penilaian ini juga kurang diajurkan pemakaiannya di dalam penilaian kelas, karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.

Tes tertulis yang berbentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut para peserta didik, dalam mengingat,  memahami,  dan  mengorganisasikan  gagasannya  atau  hal-hal  yang  sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan dalam bentuk uraian yang tertulis dengan menggunakan kata-kata sendiri. alat ini juga bisa menilai beragam kemampuan contohnya mengemukakan  pendapat,  berpikir  logis,  dan menyimpulkan.Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan terbatas.

Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis harus juga dipertimbangkan hal-hal berikut ini :

  1. Materi. Contohnya kesesuian soal dengan indikatorpada kurikulum.
  2. Konstruksi. Contohnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.
  3. Bahasa. Contohnya rumusan  soal  tidak  menggunakan  kata/  kalimat  yang menimbulkanpenafsiran ganda.

2. Penilaian diri

Penilaian diri adalah teknik penilaian, dan subjek yang ingin dinilai dan diminta untuk menilai dirinya sendiri yang berkaitan dengan status, proses, dan juga tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya pada suatu mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri bisa digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang berhubungan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Di dalam proses pembelajaran kelas, yang berhubungan dengan kompetensi kognitif contohnya peserta didik bisa diminta untuk menilai penguasaan pengetahuan serta keterampilan dalam berpikir sebagai hasil belajar, di mata pelajaran tertentu. Yang berdasar pada kriteria atau acuan yang sudah disiapkan. Berhubungan dengan kompetensi afektif contohnya peserta didik bisa diminta membuat tulisan, yang memuat curahan perasaan pada objek sikap.

Proses penilaian dalam menerapkan model pembelajaran discovery learning ini selain menggunakan jenis penilaian yang tertulis, dan penelitian diri. Bisa juga dilakukan dengan melalui penilaian kinerja, penilaian produk dan sikap.

Sekian pembahasan lengkap tentang ciri-ciri discovery learning, yang disertai dengan pengertian, karakteristik, kelemahan dan kelebihan, serta langkah penerapannya. Semoga dapat memberi manfaat bagi anda, dan menambah wawasan anda dalam metode pembelajaran.

Baca Juga :