Kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia : Nama Raja dan Peninggalannya

Posted on
4.1 (82.44%) 41 vote[s]

Perkembangan, Teori, Nama Raja dan Peninggalan Kerajaan Hindu, Budha dan Islam Di Indonesia

Kerajaan Hindu, Buddha Dan Islam Di Indonesia – Perkembangan hindu – Buddha dan islam membawa pengaruh pada masyarakat Indonesia, salah satu pengaruhnya adalah bangsa Indonesia mengenal sistem pemerintahan kerajaan dan kesultanan, bagaimanakah perkembangan kerajaan – kerajaan hindu – Buddha dan kesultanan islam di Indonesia ? apa saja bukti peninggalan kerajaan – kerajaan tradisional.

Kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia

Perkembangan peradaban manusia Indonesia tersebut dipengaruhi oleh masuknya kebudayaan – kebudayaan dari belahan dunia lain, seperti kebudayaan hindu, Buddha dan islam.

Perkembangan Hindu – Buddha di Indonesia

Perkembangan budaya hindu, Buddha, dan islam di Indonesia antara lain dapat ditelusuri keberadaannya melalui peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu-buddha maupun islam, bagaimanakah perkembangan kerajaan-kerajaan hindu-buddha dan kesultanan-kesultanan islam di Indonesia !!!! mari kita pelajari ini dengan seksama !!!

Teori masuknya hindu-buddha ke Indonesia

Adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan india berpengaruh besar terhadap masuknya budaya hindu-buddha ke Indonesia, agama Buddha disebarluaskan ke Indonesia oleh para biksu, sementara mengenai pembawa agama hindu ke Indonesia sejarawan mengemukakan lima teori sebagai berikut :

  1. Teori Brahmana – J.C. Van leur
    Dengan melihat unsur-unsur budaya india yang berpengaruh ke Indonesia J.C. Van leur mengutarakan bahwa kaum brahmana sangat berperan dalam penyebaran agama dan kebudayaan hindu ke Indonesia, mereka datang atas undangan para penguasa Indonesia, kaum brahmana di undang ke Indonesia untuk melakukan upacara khusus menjadikan seorang menjadi pemeluk hindu yang disebut vratyastoma.
  2. Teori Ksatria – F.D.K Bosch
    F.D.K Bosch menyatakan bahwa adanya raja-raja dari india yang datang menaklukkan daerah-daerah tertentu di Indonesia telah mengakibatkan penghidupan penduduk setempat terhadap teori kstaria ini, van leur mengajukan keberatan menurutnya jika memang raja-raja india pernah menaklukkan daerah di Indonesia maka hal itu akan dicatat dalam sumber-sumber sejarah baik di india maupun Indonesia, raja-raja india biasanya membangun sebuah tugu kemenangan yang disebut jayastamba.
  3. Teori Waisya – N.j. Krom
    Menurut N.J. Krom golongan pedagang dari kasta waisya merupakan golongan terbesar yang datang ke Indonesia, mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peran penting dalam proses penyebaran kebudayaan india.
  4. Teori Sudra
    Teori ini menyatakan bahwa agama hindu masuk ke Indonesia di bawa oleh kasta sudra, mereka datang ke Indonesia dengan tujuan mengubah kehidupan karena di india mereka hanya hidup sebagai pekerja kasar dan budak.
  5. Teori campuran
    Teori ini beranggapan bahwa baik kaum brahmana, ksatria, para pedagang, maupun golongan sudra bersama-sama menyebarkan agama hindu ke Indonesia sesuai dengan peran masing-masing.

Perkembangan kerajaan-kerajaan hindu-buddha di indonesia

Nama Kerajaan Hindu Budha Beserta Rajanya

Bukti tertua adanya pengaruh india di Indonesia adalah ditemukannya arca Buddha dari perunggu di sempaga, Sulawesi selatan, arca ini berlanggam seni arca ammarawati india selatan arca sejenis juga ditemukan di jember, jawa timur dan didaerah bukit siguntang Sumatra selatan.

Perkembangan kebudayaan india di Indonesia ditunjukkan pula oleh adanya kerajaan-kerajaan yang bercocok hindu-budha berikut adalah kerajaan-kerajaan bercorak hindu-buddha di Indonesia.

Kerajaan kutai

Kerajaan kutai atau kerajaan kutai martadipura ( martapura ) merupakan kerajaan hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 masehi di muara Kaman, Kalimantan timur, kerajaan ini dibangun oleh kudunga diduga ia belum menganut agama hindu.

Peninggalan terpenting kerajaan kutai adalah 7 prasasti yupa dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta, prasasti yupa berupa tiang-tiang batu untuk mengikat hewan kurban, salah satu yupa menyatakan bahwa “ maharaja dengan ansuman ( dewa matahari ) aswawarman mempunyai tiga orang putra yang paling terkemuka adalah mulawarman.

Mulawarman merupakan raja termasyur pada kerajaan kutai ia pernah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana untuk memperingati hal itu, para brahmana mencatatnya dalam prasasti yupa, salah satu prasasti juga menyebut kata waprakeswara yaitu tempat pemujaan terhadap dewa syiwa.

Kerajaan tarumanegara

Berdirinya kerajaan tarumanegara di jawa barat hampir bersamaan waktunya dengan kerajaan kutai, tarumanegara didirikan oleh rajadirajaguru jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya dharmayawarman ( 382-395 ).

Dilihat dari asal-usulnya kata tarumaberhubungan dengan kata tarum yang berarti nilai atau biru, sampai sekarang nama taruma masih digunakan sebagai nama sungai yaitu citarum ( ci = sungai ).Maharaja purnawarman adalah raja tarumanegara yang ketiga ( 395 – 434 M ). Ia membangun ibu kota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai ibu kota baru itu bernama sundapura. Menurut prasasti tugu pada tahun 417 purnawarman, ,memerintahkan penggalian sungai gomati dan candrabaga sepanjang 6112 tombak ( sekitar 11 km ). Ia berhasil membawa tarumanegara menjadi kerajaan besar kekuasaanya membentang dari daerah bekasi di timur sampai ke banten selatan di barat.

Prasasti-prasasti lain yang menceritakan kerajaan tarumanegara yaitu prasasti ciaruteun prasasti kebon kopi prasasti jambu ( pasir koleangkak ), prasasti cidanghiang ( munjul ) dan prasasti pasir awi ( muaraciaten ) Dari isi beberapa prasasti tersebut disimpulkan bahwa purnawarman menganut agama hindu waisnawa ( aliran pemuja dewa wisnu ).
Adapun menurut fa-hien yang tiba di to-lo-mo pada abad ke-7 M diterangkan bahwa agama yang dianut masyarakat tarumanegara adalah hindu, Buddha dan animism dinamisme.

Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan berita-berita cina dapat diketahui bahwa di sumatera pada abad ke-7 sudah terdapat beberapa kerajaan, seperti to-lang-p’o-hwang ( tulang bawang di sumatera selatan ), molo-yeu ( melayu di jambi ) dan shih-li-fo-shih atau sriwijaya, dalam sejarah Indonesia klasik, kerajaan sriwijaya selalu disebut-sebut sebagai kerajaan yang megah dan jaya yang melambangkan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu.

Faktor-faktor pendorong perkembangan kerajaan sriwijaya :

  1. Letaknya yang strategis di selat malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional.
  2. Kemajuan kegiatan perdagangan antara india dan cina yang melintas selat malaka sehingga membawa keuntungan yang besar bagi sriwijaya.
  3. Keruntuhan kerajaan funan di Vietnam selatan akibat serangan kerajaan kamboja memberikan kesempatan bagi perkembangan sriwijaya sebagai Negara maritim ( sarwajala ) yang selama abad ke-6 dipegang oleh kerajaan funan.
Baca Juga :   Badan Usaha Menurut Para Ahli : Pengertian, Jenis dan Fungsinya Lengkap

Prasasti-prasasti kerajaan sriwijaya

Kebesaran kerajaan sriwijaya antara lain diberitakan dalam tujuh buah prasasti peninggalannya.

  1. Prasasti kedukan bukit
    Prasasti ini ditemukan di kedukan bukit, dekat Palembang, berangka tahun 605 saka ( ±683 masehi ) menceritakan perjalanan suci yang dilakukan oleh dapunta hyang dengan perahu, ia berangkat dari minangtamwan dengan membawa 20.000 tentara, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah sehingga sriwijaya menjadi makmur.
  2. Prasasti talang tuo
    Prasasti talang tuo ( dekat Palembang ) yang berangka tahun 684 masehi berisi berita tentang pembuatan taman riksetra atas perintah dapunta hyang ri jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk.
  3. Prasasti kota kapur
    Prasasti yang berangka tahun 686 masehi ini ditemukan di kota kapur, pulau Bangka.  Prasasti ini menyebutkan adanya ekspedisi sriwijaya ke daerah seberang lautan ( pulau jawa ) untuk memperluas kekuasaannya dengan menundukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, seperti melayu, tulang bawang dan tarumanegara.
  4. Prasasti telaga batu
    Prasasti ini tidak berangka tahun, isinya mengenai kutukan-kutukan yang seram terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada raja.
  5. Prasasti kurang berahi
    Prasasti ini ditemukan didaerah karang berahi, jambi hulu. Berangka tahun 686 masehi dengan isi permintaan kepada dewa yang menjaga sriwijaya dan untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat terhadap sriwijaya.
  6. Prasasti ligor
    Prasasti berangka tahun 775 masehi ini ditemukan ditanah genting kra ligor.

Kerajaan sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan balaputradewa, ia mengadakan hubungan dengan raja dewapaladewa dari india, dalam prasasti nalanda yang berasal dari sekitar tahun 860 M, disebutkan bahwa balaputradewa mengajukan permintaan kepada raja dewapaladewa dari benggala untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa dan pendeta sriwijaya yang belajar di nalanda, balaputradewa adalah putra samaratungga dari dinasti syailendra yang memerintah di jawa tengah tahun 812-824 M.

Sriwijaya pernah pula menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Buddha, seorang biksu Buddha dari cina bernama I-tsing pada tahun 671 berangkat dari kanton ke india untuk belajar agama Buddha, ia singgah di sriwijaya selama enam bulan untuki belajar bahasa sanskerta, disriwijaya mengajar seorang guru agama Buddha terkenal bernama sakyakirti yang menulis buku berjudul hastadandasastra, para biksu cina yang hendak belajar agama Buddha ke india dianjurkan untuk belajar di sriwijaya selama satu atau dua tahun, berikutnya .

Pada tahun 717 dua pendeta tantris bernama wajrabodhi dan amoghawajra datang ke sriwijaya kemudian antara tahun 1011-1023 M, datang pula pendeta dari Tibet bernama attis untuk belajar agama Buddha kepada mahaguru disriwijaya bernama dharmakirti, salah satu peninggalan kerajaan sriwijaya adalah candi muara tikus.

Sebab-sebab kemunduran kerajaan sriwijaya

Kemunduran dan keruntuhan kerajaan sriwijaya disebabkan oleh beberapa hal berikut:

  1. Serangan raja dharmawangsa pada tahun 990 M, ketika itu yang berkuasa di sriwijaya ialah sri sudamani warmadewa, Walaupun serangan ini tidak berhasil tetapi telah melemahkan sriwijaya.
  2. Serangan dari kerajaan colamandala yang diperintah oleh raja rajendracoladewa pada tahun 1023 dan 1030 serangan ini ditujukan ke semenanjung malaka dan berhasil menawan raja sriwijaya, serangan ketiga dilakukan pada tahun 1068 M, dilakukan oleh wirarajendra cucu rajendracoladewa.
  3. Pengiriman ekspedisi pemalayu atas perintah raja kartanegara 1275-1292 yang diterima dengan baik oleh raja melayu ( jambi ) mauliwarmadewa semakin melemahkan kedudukan sriwijaya.
  4. Muncul dan berkembangnya kerajaan islam samudra pasai yang mengambil alih posisi sriwijaya.
  5. Serangan kerajaan majapahit dipimpin adityawarman atas perintah majapahit gajah mada pada tahun 1477 yang mengakibatkan sriwijaya menjadi taklukan majapahit.

Kerajaan mataram

Berita mngenai kerajaan mataram diketahui dari prasasti canggal yang berangka tahun 732 masehi, ditulis dalam huruf pallawa dan bahasa sanskerta, prasasti ini ditemukan dilereng gunung wukir dekat muntilan. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa pada mulanya jawa ( yawadwipa ) diperintah oleh raja sanna yang memrintah dengan bijaksana, setelah wafat Negara yawadwipa menjadi pecah, kemudian sanjaya naik tahta sebagai penggantinya, sanjaya adalah putra sannaha ( saudara perempuan sanna ) yang sangat ahli dalam peperangan.

Sanna dan sanjaya disebutkan juga dalam cerita parahyangan sebuah kitab yang mengisahkan tentang kerajaan sunda, dalam kitab tersebut dikisahkan bahwa sanna dikalahkan oleh purbasora dari galuh dan menyingkir ke merapi. Namun penggantinya sanjaya berhasil menaklukkan jawa barat, jawa timur dan bali. Prasasti mantyasih ( di kedua ) yang dikeluarkan oleh raja balitung pada tahun 907 memuat daftar raja-raja mataram yaitu sebagai berikut.

  • Rakai mataram sang ratu sanjaya
  • Sri maharaja rakai panangkaran
  • Sri maharaja rakai panunggalan
  • Sri maharaja rakai warak
  • Sri maharaja rakai garung
  • Sri maharaja rakai pikatan
  • Sri maharaja rakai kayuwangi
  • Sri maharaja rakai watuhumalang
  • Sri maharaja watukura dyah balitung

Pengganti sanjaya terdapat dalam prasasti kalasan yang ditulis dengan huruf pra-nagari dalam bahasa sanskerta dan berangka tahun 778 M. Prasasti ini menyatakan bahwa para guru telah berhasil membujuk tejahpurana panangkarana untuk mendirikan bangunan suci untuk dewi tara dan sebuah biara untuk para pendeta. Bangunan yang didirikan itu adalah candi kalasan disebelah timur Yogyakarta adapun nama tejahpurana panangkarana adalah nama rakai panangkaran pengganti sanjaya seperti disebutkan dalam prasasti mantyasih, berdasarkan prasasti ini dapat diketahui bahwa rakai penangkaran tidak beragama hindu seperti halnya sanjaya namun beragama Buddha Mahayana.

Perpindahan agam itu dijelaskan dalam prasasti sojomerto yang berbahasa melayu kuno dan prasasti sankhara yang berbahasa sanskerta, prasasti sojomerto menyebutkan nama leluhur raja-raja mataram bernama dapunta syailendra, sedangkan prasasti sanskhara menerangkan bahwa ayah raja sankhara jatuh sakit panas selama delapan hari dan akhirnya meninggal dunia, oleh sebab itu, ia merasa takut kepada sang guru yang dianggap tidak benar.

Ia lalu meninggalkan agama siwa dan kemudian menjadi penganut agama Buddha, hal senada juga disebutkan dalam kitab carita parahyangan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa didalam kerajaan mataram, walaupun raja-rajanya menganut agama yang berbeda tetapi mereka berasal dari satu kurunan ( dinasti ).

Prasati kelurak ( 782 M ) didesa kelurak dekat prambanan dengan tulisan pra-nagari dan bahasa sanskerta menyebutkan bahwa raja dharanindra membangun arca majusri ( candi sewu ). Candi sewu adalah candi Buddha, pengganti raja dharanindra ialah samaratungga, menurut prasati karang tengah, samaratungga dan putrinya pramodhawardhani mendirikan bangunan suci wenuwena ( candi ngawen ) disebelah barat muntilan.

Pramodhawardhani kemudian menjadi pengganti samaratungga, dalam prasasti sri kahulunan berangka tahun 842 M, didaerah kedu, diberitakan bahwa sri kahuluan ( pramodhawardhani ) meresmikan pemberian tanah untuk pemeliharaan candi Borobudur ( kamulan I bhummi sambara bhundara ) yang sudah dibangun sejak masa pemerintahan samaratungga.

Pramodhawardhani menikah dengan rakai pikatan yang beragama hindu, adil pramodhawardhani balaputradewa menentang pernikahan itu, pada tahun 856 balaputradewa berusaha merebut kekuasaan dari rakai pikatan tetapi gagal, balaputradewa kemudian melarikan diri ke sriwijaya dan berhasil naik tahta sebagai raja sriwijaya, menurut prasasti pikatan ( 856 M ) disebutkan bahwa rakai pikatan memerintahkan pembangunan candi prambanan.

Baca Juga :   Fisik Atmosfer Bumi : Pengertian dan Sifat Beserta Manfaatnya Bagi Manusia

Setelah pemerintahan rakai pikatan mataram mengalami kemunduran pengganti rakai pikatan, rakai kayuwangi ( 856-886 ) berhasil mengatasi Pemeberontakan rakai walaing empu kumbayoni, pengganti rakai kayuwangi ialah rakai watuhumalang yang memerintah antara tahun 886-898 M, kemudian menyusul pemerintahan raja balitung ( 898-910 M ), pada masa pemerintahannya ia mengeluarkan prasasti mantyasih.

Raja balitung banyak mengalihkan perhatian ke wilayah jawa timur, prasasti-prasasti raja balitung dari tahun 989 sampai 907 M, banyak ditemukan di jawa timur,bahkan salah satunya menyebutkan tentang penyerangan ke bantan ( bali ). Raja-raja setelah balitung ialah daksa ( 910-919 M ), rakai layang dyah tulodong ( 919-924 ) dan wawa yang bergelar sri wijayalokanamottungga ( 924-929 M ), wawa merupakan raja terakhir kerajaan mataram di jawa tengah, pusat kerajaan kemudian dipindahkan oleh seorang mahapatinya ( mahamantri I hino ) bernama empu sindok ke jawa timur, perpindahan pusat kerajaan mataram dari jawa tengah ke jawa timur diperkirakan disebabkan oleh hal-hal berikut :

  1. Menghindari serangan kerajaan sriwijaya
  2. Rakyatnya banyak yang pindah ke jawa timur untuk menghindari kerja paksa karena banyak pembangunan candi.
  3. Candi alam meletusnya gunung merapi

Pada tahun 929 M, empu sindok naik tahta dengan gelar sri maharaja rakai hino sri isana wikramadharmattunggadewa, ia mendirikan dinasti baru, yaitu dinasti isana, empu sindok memerintah dengan permaisurinya bernama rakryan sri parameswari sri wardhani empu kbi. Empu sindok meninggalkan banyak prasasti namun tidak banyak informasi peristiwa-peristiwa sejarah yang diperoleh darinya. Ada pula kitab agama Buddha yang dihimpun selama empu sindok berkuasa, yaitu sang hyang kamahanikan yang berisi ajaran dan ibadah agama Buddha tantrayana.

Empu sendok memerintah hingga tahun 947 M, pengganti-penggantinya dapat diketahui dari prasasti yang dikeluarkan oleh airlangga yaitu prasasti calcuta, prasasti tersebut kini tersimpan di Indian museum di calcuta, india. Dalam prasasti itu dikemukakan silsilah keturunan raja empu sindok sebagai berikut.

Empu sindok digantikan oleh putrinya bernama sri isanatunggawijaya, yang bersuamikan lokapala dan perkawinan itu lahirlah seorang putra bernama makutawangasawardhana yang kemudian menggantikan ibunya sebagai raja, pengganti makutawangsawardhana ialah dharmawangsa teguh ananta wikramatunggadewa.

Ia diperkirakan putra makutawangsawardhana sari selir. Berdasarkan berita cina diperoleh keterangan bahwa raja dharmawangsa pada tahun 990-992 M, menyerang kerajaan sriwijaya. Pada tahun 1016 M, airlangga datang ke pulau jawa untuk meminang putri dharmawangsa. Namun pada saat upacara pernikahan berlangsung kerajaan mendapat serangan dari raja wurawari yang bekerja sama dengan sriwijaya, peristiwa ini disebut pralaya atau kehancuran.

Airlangga dapat melarikan diri bersembunyi di wanagiri bersama para resi dan petapa dengan didampingi sahabatnya yang bernama narotama, selama dalam pengasingan ia menyusun kekuatan pada tahun 1019 M, airlangga dinobatkan menjadi raja pengganti dharmawangsa oleh para pendeta Buddha, siwa, dan brahmana.

Langkah pertama airlangga adalah menyatukan kembali wilayah kerajaan yang pernah menjadi kekuasaan dharmawangsa, setelah berhasil menaklukan wurawari pada tahun 1032 M dan mengalahkan raja wijaya dari wengker, pada tahun 1035 M, ia berhasil mengembalikan kekuasaan warisan dharmawangsa, wilayahnya meliputi daerah Surabaya, malang, Kediri dan madiun.

Airlangga juga berupaya memberikan kemakmuran bagi rakyatnya prasasti kelagen ( 1037 ) menyebutkan bahwa airlangga memerintahkan pembangunan sebuah waduk hujung galuh diwaringin sapta ( waringin pitu ) guna mengatur aliran sungai brantas. Sehingga banyak kapal dagang dari benggala, sri lanka, chola, champa, Burma dan lain-lain datang ke pelabuhan itu. Kemakmuran dan ketenteraman pada masa pemerintahan airlangga diceritakan pula dalam kitab arjunawiwaha yang dikarang oleh empu kanwa pada tahun 1030.

Pada masa pemerintahan airlangga banyak dibangun bangunan suci dan asrama untuk pendeta dan petapa, airlangga menganut agama hindu alairan waisnawa ( pemuja dewa wisnu ). Setelah mengundurkan diri sebagai raja, ia menjadi petapa dengan nama resi gentayu. Airlangga wafat pada tahun 1049 dan disemayamkan di parthirtaan belahan, di lereng gunung penanggungan airlangga diwujudkan dalam sebuah patung wisnu sedang mengendarai garudeya ( burung garuda ).

Kerajaan Kediri

Pada akahir pemerintahannya airlangga kesulitan menunjuk penggantinya, hal ini disebabkan putri mahkota sanggramawijaya menolak menjadi raja dan lebih memilih menjadi petapa. Tahta kemudian diserahkan kepada kedua anak laki-lakinya yaitu jayengrana dan jayawarsa.

Untuk menghindari perselisihan di antara keduanya kerajaan di bagi dua dengan batas gunung kawi atas bantuan empu berada yaitu jenggala dengan batas gunung kawi atas bantuan empu berada yaitu jenggala dengan ibu kotanya kahuripan dan panjalu dengan ibu kotanya daha ( Kediri ).

Raja pertama yang muncul dalam pentas sejarah setelah masa airlangga ialah sri jayawarsa dengan prasastinya yang berangka tahun 1104 M, selanjutnya berturut-turut raja-raja yang berkuasa di Kediri ialah bameswara ( 1115-1130 ), jayabaya ( 1130-1160 ), sarweswara ( 1160-1170 ), aryyeswara ( 1170-1180 ), gandra ( 1181 ), srengga 1222 terjadi perang ganter antara ken arok dengan kertajaya, ken arok dengan bantuan para brahmana berhasil mengalahkan kertajaya di ganter ( pujon, malang ), dengan demikian berakhirlah riwayat kerajaan Kediri.

Kerajaan singasari

Kerajaan singasari didirikan oleh ken arok, dalam kitab pararaton diceritakan bahwa ken arok adalah anak ken endok dari desa pangkur, sebelah timur gunung kawi , malang. ken arok digambarkan sebagai seorang pencuri dan perampok sakti sehingga menjadi buronan pasukan tumapel, setekah mendapatkan bantuan dari seorang brahmana, ken arok dapat mengabdi kepada akuwu ( bupati ) ditumapel, barnama tunggul ametun, ia berhasil membunuh tunggul ametung dan menjadi penguasa tumapel. Ia juga menjadikan ken dedes istri tunggal ametung sebagai permaisurinya. Ketika itu tumapel masih berada di bawah kekuasan karajaan kediri.

Setelah merasa memiliki kekuatan yang cukup, ken arok berusaha untuk melepasakan diri dari Kediri, pada tahun 1222, ken arok mkembunuh kertajaya raja Kediri terakhir. Ia kemudian naik tahta sebagai raja singasari dan mendirikan dinasti baru yaitu dinasti girinda. Ken arok bergelar sri rangga rajasa sang amurwabhumi.

Pada tahun 1227, ken arok dibunuh oleh anusapati ( anak ken dedes dari tunggul ametung ) sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Ken arok dimakamkan di kagenengan dalam bangunan suci agama siwa dan Buddha. Anusapati berkuasa di singasari selama 21 tahun, masa pemerintahannya berlangsung dengan aman dan tentram sampai akhirnya, ia dibunuh oleh tohjaya, putra ken arok dari ken umang juga sebagai balas dendam atas kematian ayahnya, anusapati disemayamkan di candi kidal, sebelah tenggara malang.

Tohjaya naik tahta ia memerintah hanya beberapa bulan saja, ia kemudian terbunuh oleh ranggawuni ( putra anusapati ) yang dibantu mahesa cempaka dikatang lumbang ( pasuruan ). Pada tahun 1248, ranggawuni naiki tahta dengan gelar srijaya wisnuwardhana. Ia didampingi mahesa cempaka sebagai ratu angabhaya dengan gelar narasingamurti pada tahun 1254, wisnuwardhana mengangkat mengangkat putranya kertanegara sebagai yuwaraja atau raja muda, wisnuwardhana wafat pada tahun 1268 di mandragiri.

Baca Juga :   11 Cara Rahasia Menjadi orang Sukses Menurut Ahli

Kertanegara kemudian naik tahta dengan gelar sri maharajadiraja sri kertanegara dan menjadi raja terbesar singasari, beberapa daerah dapat ditaklukkannya seperti bali, kalimatan barat daya, Maluku, sunda dan Pahang.

Kertanegara merupakan raja pertama yang bercita-cita menyatukan nusantara, pada tahun 1275 kertanegara mengirimkan ekspedisi pamalayu ke Sumatra ( jambi ) dipimpin oleh kebo anabrang. Ekspedisi ini bertujuan menuntut pengakuan sriwijaya dan melayu atas kekuasaan singasari ekspedisi pamalayu juga bertujuan mengurangi pengaruh kubilai khan dari cina di nusantara.
Karena khawatir atas ekspedisi pasukan singasari ke Sumatra itu pada tahun 1289 kubilai khan mengirimkan utusan bernama meng-chi untuk menuntut pengakuan singasari pada kekaisaran mongol. Kertanegara menolak tegas tuntutan itu, bahkan utusan cina dilukai mukanya, perlakukan kertanegara tersebut dianggap sebagai penghinaan dan tantangan perang.

Untuk menghadapi kemungkinan serangan dari tentara mongol, pasukan singasari disiagakan dan dikirim ke berbagai daerah di laut jawa dan laut cina selatan sehingga pertahanan di ibu kota lemah, hal ini di manfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak senang terhadap kertanegara, seperti jayakatwang ( penguasa Kediri ) dan arya wiraraja ( bupati Madura ).

Sewaktu kertanegara sedang melakukan upacara tantrayana, pasukan Kediri berhasil menduduki istana dan membunuh kertanegara. Jenazah kertanegara dicandikan di dua tempat yaitu di candi jawi sebagai siwa-buddha dan candi singasari sebagai siwa bhairawa.

Kerajaan Majapahit

Ketika pasukan Kediri menyerang istana singasari, raden wijaya ( menantu kertanegara ) berhasil melarikan diri bersama keempat putri kertanegara, mereka akhirnya sampai di Madura dan meminta bantuan kepada arya wiraraja, atas nasihat arya wiraraja raden wijaya menyerahkan diri kepada jayakatwang dan diperbolehkan membuka perkampungan dihutan tarik yang diberi nama majapahit.

Pasukan mongol yang hendak menghukum kertanegara tiba pula dipulau jawa, mereka belum mengetahui bahwa kertanegara telah meninggal akibat serangan jayakatwang. Hal ini di manfaatkan oleh raden wijaya untuk membalas dendam kepada jayakatwang, setelah pasukan jayakatwang berhasil dihancurkan tentara mongol, raden wijaya berbalik menyerang pasukan mongol.
Raden wijaya kemudian dinobatkan sebagai raja majapahit dengan gelar sri kertarajasa jayawardhana pada tahun 1293. Arya wiraraja yang telah membantunya mendapatkan daerah kekuasaan dari lumajang sampai blambangan ( banyuwangi ).

Namun ranggalawe yang merasa berjasa besar dalam pendirian kerajaan majapahit mersa tidak puas atas kedudukannya sebagia adipati tuban. Ia mengharapkan menjadi patih majapahit yang sedang dijabat oleh nambi. Oleh karena itu meletuslah pemberontakan ranggalawe, pemberontakan itu berhasil digagalkan pada tahun 1309.

Kertarajasa menikahi keempat putri kertanegara, istri pertamanya tribuwana diangkat sebagai permaisuri, adapun yang bungsu bernama gayatri atau disebut juga rajapatni.
Kertarajasa mempunyai 3 anak, dua anak perempuan dari pernikahannya dengan gayatri yaitu bhre kahuripan dan bhre daha, adapun satu orang putra dari tribuwana ( parameswari ) bernama kalagemet, kertarajasa meninggal pada tahun 1309 dan disemayamkan di candi siwa di simping blitar dan di candi Buddha di antahpura, trowulan. Arca perwujudannya adalah harihari yaitu wisnu dan siwa menyatu dalam satu arca.

Kalagement kemudian dinobatkan sebagai raja majapahit berikutnya dengan gelar sri jayanagara, ia bukanlah raja yang cakap, sebagian waktunya hanya digunakan untuk bersenang-senang dengan selir-selirnya di istana kapopongan. Selain itu ia juga mendapatkan banyak pengaruh dari maha pati, seorang pejabat tinggi yang ambisius. Akibatnya masa pemerintahan jayanagara diwarnai munculnya beberapa pemberontakan, seperti juru demung, gajah biru, dan nambi.

Pemberontakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan kuti pada tahun 1319, kuti berhasil menduduki ibu kota majapahit sehingga jayanagara harus melarikan diri ke desa bedander dikawal oleh pasukan bhayangkari pimpinan gajah mada.

Pemberontakan kuti akhirnya berhasil ditumpas oleh gajah mada, karena jasanya tersebut gaja mada diangkat sebagai patih kahuripan, jayanagara mangkat pada tahun 1328 dibunuh oleh tabib istana, tanca . tanca kemudian di bunuh oleh gajah mada. Jayanagara tidak meninggalkan keturunan, ia dicandikan di sila petak dan bubat denga arca perwujudan sebagai wisnu dan sukalila sebagai amoghasiddhi.

Karena jayanagara tidak memiliki keturunan maka yang berhak memrintah semestinya ialah gayatri. Akan tetapi gayatri telah menjadi biksuni maka pemerintahan majapahit kemudian dipegang oleh putrinya bhre. Kahuripan dengan gelar tribhuwana tunggadewi jayawisnuwardhani. Ia menikah dengan kertawardhana dari perkawinan ini lahirlah hayam wuruk pada tahun 1331 terjadi pemberontakan sadeng dank eta ( di daerah besuki ).

Pemberontakan yang berbahaya ini dapat pula ditumpas oleh gajah mada, karena jasanya itu, gajah mada diangkat sebagai patih mangkubumi majapahit, sewaktu pelantikan gajah mada mengucapkan sumpah palapa ( amukti palapa ) yang isinya ia tidak akan menikmati palapa ( garam dan rempah-rempah ) sebelum dapat mempersatukan nusantara di bawah majapahit, sumpah ini benar-benar dilaksanakan oleh gajah mada, pada tahun 1343, gajah mada yang dibantu adityawarman dapat menaklukkan bali, berikutnya gajah mada memerintahkan aditywarman untuk menaklukkan melayu disumatra.

Pada tahun 1350, tribhuwana turun tahta, ia digantikan oleh hayam wuruk yang bergelar rajasanagara. Dibawah pemerintahan hayam wuruk dengan gajah mada sebagai mahapatinya, majapahit mencapai puncak kejayaan.

Dengan sumpah palapanya gajah mada berhasil menguasai seluruh kepulauan nusantara ditambah dengan siam, martaban ( Burma ), ligor, annam, champa dan kamboja. Hubungan dengan Negara-negara tetangga pun dijalin dengan baik. Hal ini tampak pada semboyan politik luar negeri majapahit, mitreka satata yang artinya menjalin hubungan sederajat dengan Negara-negara tetangganya.

Pada tahun 1364, mahapatih gajah mada wafat semasa hidupnya gaja mada menulis kitab hukum yang dijadikan dasar hukum majapahit yang disebut kutaramanawa. Setelah gajah mada meninggal, hayam wuruk menemui kesulitan untuk menentukan penggantinya, akhirnya diputuskan pengganti gajah mada dalah empat orang meteri. Hayam wuruk wafat pada tahun 1389. Ia semayamkan ditayang, Kediri.

Seharusnya yang menggantikan adalah putrinya yang bernama kusumawardhani namun kusumawardhani menyerahkan tahta kepada suaminya yang masih saudara sepupunya bernama wikramawardhana, hayam wuruk juga mempunyai anak laki-laki dari selir bernama bhre wirabhumi yang telah mendapatkan daerah kekuasaan dikedaton wetan ( ujung jawa timur ).
Akan tetapi pada tahun 1401 hubungan wikramawardana denga wirabhumi berubah menjadi perang saudara yang dikenal sebagai perang paregreg, wirabhumi dapat dikalahkan dan dibunuh pada tahun 1406, perang saudara ini telah melemahkan kekuasaan majapahit sehingga banyak wilayah kekuasaannya melepaskan diri.

Pada tahun 1429 wikramawaedhana meninggal dan digantikan oleh putrinya bernama suhita ( 1429-1447 ) suhita kemudian digantikan oleh adik tirinya bernama kertawijaya ( 1447-1451 ) setelah itu sejarah majapahit semakin suram dan tidak diketahui dengan pasti raja-raja penggantinya.

Sumber : penerbit yudhistira ( untuk kelas XI SMA )
Karangan, M. Habib Mustopo dkk.

Baca Juga :