Sejarah Pemberontakan DI TII Di Indonesia : Latar Belakang, Penyebab dan Tujuannya Lengkap

Posted on
5 (100%) 1 vote[s]

Sejarah Pemberontakan DI TII Di Indonesia, Latar Belakang, Penyebab dan Tujuannya

Pemberontakan Di Tii – Tentara Islam Indonesia atau TII biasa juga disebut dengan Darul Islam atau DI. Merupakan sebuah gerakan politik yang didirikan di tanggal 7 Agustus 1949, oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di sebuah desa yang lokasinya berada di Tasikmalaya. NII juga diproklamasikan ketika Negara Pasundan dibuat oleh Belanda dan mengangkat Raden yang bernama Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema, yang juga sebagai presiden atau pemimpin di Negara Pasundan tersebut.

Latar Belakang Dan Tujuan Pemberontakan DI /TII

Gerakan dari NII ini memiliki tujuan yaitu untuk menjadikan Republik Indonesia sebagai sebuah negara, yang menerapkan dasar negara Islam sebagai dasar negaranya. Di dalam proklamasi pun tertulis Hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum islam. Atau lebih jelasnya lagi tertulis di dalam undang-undangnya, yaitu Negara Berdasarkan Islam. Sedangkan Hukum tertinggi adalah Al-quran dan Hadist. Proklamasi Negara Islam Indonesia atau NII menyatakan dengan tegas bahwa, kewajiban negara adalah membuat undang-undang berdasarkan pada syariat islam, dan juga menolak keras ideologi terhadap ideologi yang selain dari alquran dan hadist. Atau yang sering disebut kafir oleh mereka.

Di dalam perkembangannya NII kemudian menyebar ke beberapa wilayah yang ada di Negara Indonesia. Khususnya di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Setelah Sekarmadji ditangkap oleh TNI lalu dieksekusi di tahun 1962, gerakan Darus Islam ini pun terpercah. Walaupun dianggap sebagai gerakan yang ilegal oleh Indonesia, pemberontakan DI/TII masih berjalan walaupun dengan cara diam-diam di Jawa Barat Indonesia.

Di tanggal 7 Agustus 1949 di sebuah Kabupaten di Tasikmalaya, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo mengumumkan bahwa Negara Islam Indonesia sudah berdiri di Indonesia. Yang dimana gerakannya disebut dengan Darul Islam sedangkan para tentaranya disebut Tentara Islam Indonesia. Gerakan DI/TII ini dibentuk ketika provinsi Jawa Barat telah ditinggalkan oleh Pasukan Siliwangi yang kemudian hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam rangka menjalankan perundingan Renville.

Baca Juga :   Perkembangan Islam Di Indonesia : Abad ke 7 Hingga Abad Ke 20 Lengkap

Ketika Pasukan Siliwangi tersebut berhijrah, kelompok DI/TII dengan leluasa melakukan gerakannya dengan cara merusak dan membakar rumah penduduk, membongkar jalan di kereta api, dan juga menyiksa serta merampas harta benda yang dimiliki oleh penduduk di daerah itu. Tetapi saat Pasukan Siliwangi membuat jadwal untuk kembali ke Jawa barat, kelompok DI/TII pun berhadapan dengan Pasukan Siliwangi.

Upaya Penumpasan Dan Pemberontakan DI/TII

Usaha pemerintah untuk menumpaskan DI/TII memakan waktu yang cukup lama, karena beberapa faktor seperti misalnya :

  1. Tempat tinggal DI/TII berada di daerah pegunungan, yang dimana sangat mendukung organisasi tersebut untuk bergerilya.
  2. Pasukan Sekarmadji bisa bergerak dengan lebih leluasa di lingkungan penduduk sekitar.
  3. Pasukan DI/TII juga mendapat bantuan dari orang Belanda, yang diantaranya yaitu pemilik perkebunan, serta para pendukung Negara Pasundan.
  4. Suasana politik yang saat itu tidak konsisten, dan perilaku dari beberapa golongan partai politik sudah mempersulit usaha dalam pemulihan keamanan.

Dalam menghadapi pasukan DI/TII pemerintah pun mengerahkan TNI untuk meringkus kelompok tersebut. di tahun 1960 Pasukan Siliwangi bekerjasama dengan rakyat untuk melaksanakan operasi Baratayuda dan Pagar Betis. Dalam menumpas dan meruntuhkan organisasi itu. Di tanggal 4 Juni 1962 Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan para pengawalnya ditangkap, oleh Pasukan Siliwangi dalam operasi Baratayudha yang dilakukan di Gunung Geber Majalaya. Setelah Sekarmadji ditangkap oleh pasukan TNI, Mahkamah Angkatan Darat pun menyatakan bahwa Sekarmadji dijatuhi hukuman mati. Setelah Sekarmadji meninggal pemberontakan DI/TII pun bisa dimusnahkan.

Pemberontakan DI/TII Di Jawa Barat

Di tanggal 7 Agustus 1949 saat Sekarmadji memproklamasikan DI/TII, ia juga menyatakan dengan resmi bahwa NII berdiri atas Kanun Azasi. Dan di tanggal 25 Januari 1949 saat Pasukan Siliwangi sedang melaksanakan hijrah, saat itulah pemberontakan pertama secara kontak senjata antara DI/TII dan TNI dimulai. Selama peperangan berlangsung DI/TII dibantu oleh Tentara Belanda sehingga peperangan pun menjadi semakin sengit. Hadirnya DI/TII mengakibatkan penderitaan pada rakyat Jawa Barat karena mereka sering menerima teror dari DI/TII. Bukan hanya mengancam warga, tetapi pasukan juga merampas harta benda warga untuk mencukup kebutuhan hidup mereka.

Pemberontakan DI/TII Di Jawa Tengah

Bukan hanya di Jawa Barat tetapi pemberontakan DI/TII ini juga berlangsung di Jawa Tengah. Sejak adanya majelis islam yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Amir Fatah. Yang merupakan komandan dari Laskar Hizbullah yang berdiri di tahun 1946, yang juga menggabungkan diri dengan pasukan TNI Battalion 52, dan bertempat tinggal di Brebes Tegal. Amir Fatah memiliki pengikut dengan jumlah yang cukup banyak, sehingga di tanggal 23 Agustus 1949 ia juga memproklamasikan bahwa organisasi Darul Islam telah berdiri di Jawa Tengah tepatnya di Desa Pesanggrahan Tegal. Setelah proklamasi itu dilaksanakan, Amir Fatah juga menyatakan bahwa gerakan yang ia pimpin bergabung dengan organisasi Di/TII yang ada di Jawa barat. Yang saat itu dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Baca Juga :   BPUPKI : Sejarah, Tujuan, Anggota, Sidang Dan Pembubarannya Lengkap

Selain itu di Kebumen juga ada sebuah organisasi yang namanya Angakatan Umat Islam atau AUI yang didirikan oleh Kyai yang bernama Mohamad Mahfud Abdurrahman. Organisasi ini juga bermaksud untuk membentuk Negara Islam Indonesia atau NII. Serta bersekutu dengan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Gerakan ini sudah didesak oleh TNI, tetapi pada tahun 1952 organisasi tersebut bangkit lagi dan menjadi kuat setelah terjadinya pemberontakan Battalion 423 dan 426 di Magelang dan juga Kudus. Dalam upaya untuk menumpas pemberontakan itu, pemerintah pun membentuk pasukan baru yang dinamakan Banteng Raiders dan juga organisasinya yang disebut dengan GBN. Di tahun 1954 dilakukan sebuah operasi yang disebut dengan Operasi Guntur, untuk menghancurkan kelompok DI/TII itu.

Pemberontakan DI/TII Di Kalimantan Selatan

Di bulan Oktober tahun 1950 terjadi sebuah pemberontakan Kesatuan Rakyat Yang Tertindas atau KRYT. Yang saat itu dipimpin oleh seorang letnan dua TNI yang namanya Ibnu Hajar. Dia juga bersama dengan kelompok KRYT yang menyatakan bahwa dirinya merupakan bagian dari organisasi DI/TII yang ada di Jawa Barat. Sasaran utama dari kelompok tersebut adalah pos TNI yang ada di wilayah itu. Sesudah pemerintah memberi kesempatan untuk menghentikan pemberontakan dengan cara baik-baik, akhirnya seorang mantan Letnan Ibnu Hajar pun menyerahkan diri. Tetapi penyerahan akan dirinya hanya sebuah topeng untuk merampas peralatan TNI, setelah peralatan terampas Ibnu Hajar pun melarikan diri dan bersekutu kembali dengan DI/TII. Akhirnya pemerintah RI pun mengadakan Gerakan Operasi Militer atau GOM, yang dibawa ke Kalimantan Selatan. Untuk menumpas pemberontakan yang terjadi di sana. Di tahun 1959 Ibnu Hajar berhasil diringkus lalu dijatuhi hukuman mati di tanggal 22 Maret 1965.

Pemberontakan DI/TII Di Aceh

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan, di Aceh terjadi konflik dengan umat islam kelompok alim ulama yang bergabung dengan sebuah organisasi yang bernama PUSA atau Persatuan Seluruh Ulama Aceh. Yang saat itu dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh dengan kepala adatnya. Konflik itu juga mengakibatkan perang saudara diantara kedua kelompok tersebut, yang sudah berlangsung sejak Desember 1945 sampai Februari 1946. Dalam menanggulangi masalah itu, pemerintah RI pun memberi status Daerah Istimewa tingkat provinsi pada Aceh. Serta mengangkat Daud Beureuh menjadi Pemimpin atau Gubernur.

Baca Juga :   Sejarah, Latar Belakang Peristiwa dan Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI Lengkap

Setelah NKRI terbentuk di bulan Agustus 1950, pemerintah RI mengadakan sistem penyerdehanaan administrasi pemerintahan yang mengakibatkan beberapa daerah yang ada di Indonesia mengalami penurunan status. Salah satu daerah yang mengalami penurunan itu adalah Aceh. Yang tadinya menjabat sebagai Daerah Istimewa, sesudah penyederhanaan itu dimulai maka Aceh menjadi daerah keresidenan yang dikuasai oleh Provinsi Sumatera Utara. Kejadian itu tentu membuat Daud Beurehu kecewa, dan akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan NII. Peristiwa itu terjadi di tanggal 20 September 1953. Setelah Daud Beureuh bergabung dengan NII, mereka pun melakukan operasi untuk menguasai kota yang ada di Aceh. Mereka pun melakukan propaganda untuk memperkeruh citra pemerintah RI.

Pemberontakan yang dilakukan oleh Daud Beureuh dengan anggota NII yang dipimpi Sekarmadji, diatasi oleh pemerintah dengan menggunakan kekuatan senjata dan operasi militer dari TNI. Sesudah pemerintah RI melakukan operasi itu, kelompok DI/TII mulai terkikis dari beberapa kota yang ditempatinya. TNI pun memberi pencerahan pada penduduk setempat untuk menghindari kesalahpahaman dan mengembalikan kepercayaan, pada pemerintah RI. Tanggal 17 sampai 28 Desember 1962, atas nama Prakasa Panglima Kodami Iskandar Muda, kolonel M.Jasin pun mengadakan musyawarah kerukunan Rakyat Aceh. Yang dimana musyawarah tersebut mendapat dukungan dari para tokoh masyarakat Aceh, dan musyawarah dilakukan di tempat itu berhasil memulihkan keamanan di Aceh.

Pemberontakan DI/TII Di Sulawesi Selatan

Pemberontakan pun terjadi di Sulawesi Selatan, dan dipimpin oleh Kahar Muzakar. Organisasi ini sudah didirikan sejak tahun 1951 dan baru diruntuhkan oleh pemerintah di tahun 1965. Untuk menumpas organisasi itu, dibutuhkan banyak biaya, tenaga dan juga waktu karena kondisi medannya sulit. Walaupun begitu pemberontak DI/TII menjadi sangat menguasai kawasan tersebut. sesudah pemerintah RI mengadakan operasi penumpasan DI/TII dengan anggota TNI, barulah Kahar Muzakar ditangkap di tanggal 3 Februari 1965.

Akhirnya TNI juga mampu menghalau seluruh pemberontakan, yang terjadi kala itu. Seperti yang sudah diketahui Indonesia terbentuk dari beragam suku dan keberagaman budaya, selain itu UUD 1945 yang juga melindungi beberapa kepercayaan sehingga tidak mungkin menjadikannya salah satu hukum agama untuk dijadikan dasar negara.

Demikian pembahasan mengenai pemberontakan DI/TII secara lengkap. Semoga artikel ini menambah wawasan anda.

Baca Juga :