Sejarah Kerajaan Kediri : Perkembangan Politik, Ekonomi, Sistem Pemerintahan Lengkap Raja – Rajanya

Posted on
2.7 (53.33%) 3 vote[s]

Sejarah, Nama Raja, Perkembangan dan Peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri – Kerajaan Kediri atau disebut juga Panjalu adalah kerajaan di Jawa Timur, yang berdiri sejak tahun 1042 – 1222. Yang saat itu berpusat di Kota Daha atau yang sekarang disebut dengan Kota Kediri. Kota Daha sudah ada sejak sebelum Kerajaan Kediri tersebut didirikan, nama Daha sendiri adalah singkatan dari Dahanapura yang artinya Kora Api. Hal itu bisa dilihat dari sebuah Prasasti Pamwatan dari Airlangga, di tahun 1042. Di akhir tahun 1042 Airlangga terpaksa harus membagi wilayah kerajaan, karena adanya perebutan tahta dari dua orang putranya yang bernama Sri Samarawijaya yang mendapat Kerajaan Barat Panjalu di Kota Daha, dan Mapanji Garasakan yang mendapat Kerajaam Timur di Janggala Kota Lama Kahuripan.

Sejarah Kerajaan Kediri

Sebelum kerajaannya terbagi menjadi dua, kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga ini memiliki nama Panjalu, yang ada di Kota Daha. Kerajaan Janggala terlahir dari pecahan Panjalu, sedangkan kerajaan kahuripan adalah kota lama yang ditinggalkan oleh Airlangga. Yang kemudian menjadi Kota Janggala.

Pada awalnya nama Panjalu ini lebih sering digunakan dibandingkan nama Kediri, atau Kadiri yang terbukti dari isi prasasti dari Raja-raja Kediri. Nama Panjalu dikenal dengan nama Pu Chia Lung, pada kronik Cina yaitu Ling Wai Tai Ta pada tahun 1178. Kediri atau Kadiri berasal dari kata Kadhri dari bahasa sansekerta, yang artinya pohon mengkudu atau pohon pace.

Perkembangan Kerajaan Kediri

Awalnya kerajaan Kediri tidak terlalu diketahui asal usulnya, pada Prasasti Turun Hyang II di tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa ditemukan. Dari beberapa raja sebelum Raja Sri Jayawarsa, hanya Raja Sri Samarawijaya saja yang diketahui. Untuk urutan raja setelah Raja Sri Jayawarsa, diketahui secara jelas dari prasasti yang kemudian ditemukan. Kerajaan Panjalu berada di bawah kekuasaan Sri Jayabhaya yang dapat menaklukan Kerajaan Janggala, dengan semboyan yang ada di Prasasti Ngantang pada tahun 1135 yaitu Panjalu Jayati atau Panjalu Menang.

Di masa pemerintahan Jayabhaya tersebut Kerajaan Panjalu mendapatkan masa kejayaannya, dan wilayah itu merupakan seluruh Jawa dan beberapa pulau Nusantara. Serta mengalahkan pengaruh yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Bukti ini diperkuat dengan Kronik Cina, yang judulnya Ling Wai Tai Ta dari Chou Ku Fei di tahun 1178. Pada prasasti itu dijelaskan bila menjadi negeri yang paling kaya selain Cina, secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatera yang saat itu berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah. Di daerah Jawa yaitu Kerajaan Panjalu dan di Sumatera adalah Kerajaan Sriwijaya.

Chou Ju Kua telah melukiskan bahwa di Jawa saat itu menganut dua jenis agama yaitu Budha dan Hindu. Dengan tipe penduduk Jawa yang pemberani dan hobi mengadu binatang. Mata uangnya terbuat dari campuran tembaga dengan perak. Di dalam buku Chu Fan Ci juga disebutkan bahwa Jawa merupakan Maharaja yang memiliki beberapa wilayah jajahan. Tepatnya di Pacitan [Pai hua yuan], Medang [Ma tung], Tumapel, Malang [Ta pen], Dieng [Hi ning], Hujung Galuh yang sekrang menjadi Surabaya [Jung ya lu], Jenggi, Papua Barat [Tung ki], Papua [Huang ma chu], Sumba [Ta kang], Sorong, Papua Barat [Kulun], Tanjungpura Borneo [jung wu lo], Banggal di Sulawesi [Pingya i], Timor [Ti wu] dan juga Maluku [Wu nu ku]. Pada tahun 2007 awal ditemukan situs Tondowongso, yang dipercaya sebagai peninggalan Kerajaan Kediri yang dianggap dapat membantu lebih banyak informasi mengenai Kerajaan Kediri kala itu.

Baca Juga :   Pengertian Islam Menurut Bahasa, Istilah, hadits dan Al-Quran Lengkap

Perkembangan Politik Kerajaan Kediri

Mapanji Garasakan memiliki jangka waktu pemerintahan yang sebentar, yang kemudian digantikan oleh Raja Mapanji Alanjung tahun 1052 sampai 1059 M. setelah itu digantikan kembali oleh Sri Maharaja Amarotsaha. Pertempuran yang terjadi dari Janggala dan Panjalu, ternyata masih berlangsung sampai 60 tahun berikutnya. Walaupun tak ada berita dan informasi lagi mengenai kepastian kedua kerajaan tersebut, sampai muncul Kerajaan Bameswara di Kediri pada tahun 1116 sampai 1136 M.

Di masa itu Ibu Kota Panjalu telah dipindahkan dari Daha ke Kediri, sehingga menjadi lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Kediri. Raja Bameswara mengenakan lencana yang bentuknya tengkorak, yang bertaring di bagian atas bulan sabit. Yang disebut dengan Candrakapala. Setelah Raja tersebut turun tahta, lalu dilanjutkan oleh Jayabhaya yang berhasil mengalahkan Jenggala.

Karya Sastra Kerajaan Kediri

Di masa sejarah Kerajaan Kediri seni sastra sering digunakan di tahun 1157, salah satunya yaitu Kakawin Bharatayuddha yang ditulis oleh Mpu Sedah. Yang lalu diselesaikan oleh Mpu Panuluh. Kitab tersebut memiliki sumber yang berasal dari Mahabrata, yang isinya yaitu kemenangan Pandawa atas Korawa yang digunakan sebagai kiasan kemenangan atas Sri Jayabhaya. Mpu Panuluh juga menulis Kalawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Ada pula Pujangga di masa pemerintahan Sri Kameswara, yaitu Mpu Dharmaja yang menulis  Kakawin Smaradahana. Kemudian di masa pemerintahan Kertajaya juga ada Pujangga yang bernama Mpu Monaguna, yang menulis Sumanasantaka. Dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Kediri

Di masa pemerintahan Kerajaan Kediri, telah mengalami beberapa pergantian kekuasaan dan ada beberapa Raja yang berkuasa kala itu. Raja pertama dari Kerajaan Kediri adalah Sri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu. Jayawarsa dinamakan sebagai titisan wisnu, yang tertulis di dalam prasasti berangka 1104. Kemudian raja yang kedua adalah Kameswara dengan gelar  Sri Maharajake Sirikan Shri Kameshhwara Sakalabhuwanatushtikarana Sarwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa atau lebih dikenal dengan Kameshwara I tahun 1115 sampai 1130. Prabu Sarwaswera adalah raja yang dikenal taat dalam beribadah, budaya, dan memegang teguh prinsip tat wam asi yang memiliki arti, Dikaulah itu, , dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau.

Menurut Prabu Sarwaswera, tujuan hidup manusia yang terakhir adalah Mooksa. Yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Atau jalan yang benar adalah jalan yang menuju ke arah kesatuan, segala sesuatu yang menghalangi kesatuan tersebut adalah tidak benar.

Prabu Kroncharyadipa adalah nama dengan arti benteng kebenaran, Prabu sangat adil pada masyarakat dan seorang pemeluk agama yang taat. Khususnya dalam mengendalikan diri ketika sedang memerintah. Ia memiliki prinsip sad kama murka, yakni enam macam musuh dalam diri manusia. Keenam itu adalah kroda (marah), moha (kebingungan), kama (hawa nafsu),loba (rakus),mada (mabuk), masarya (iri hati).

Kehidupan Sosial Masyarakat Kediri

Kehidupan di masa Kerajaan Kediri terbilang baik dan sejahtera. Sehingga rakyat juga hidup dengan tenang saat itu. Hal ini dapat terlihat dari keadaan rumah rakyat yang baik, rapi dan juga bersih. Bahkan dilengkapi dengan ubin yang berwarna kuning, dan hijau. Para penduduknya menggunakan kain sampai di bawah lutut. Kehidupan masyarakat di Kerajaan Kediri terbilang tenang dan damai, seni kesusastraannya jauh lebih berkembang dibanding seni sastra. Hal itu dapat dilihat jumlah sastra yang begitu banyak bahkan sampai saat ini. Yakni beberapa sastra yang telah diulas tersebut, dan masih banyak lagi kitab sastra lainnya seperti misalnya kitab Lubdaka dan Wertasancaya dari Mpu Tan Akung, Kitan Kresnayana dari Mpu Triguna serta Kitab Sumanasantaka dari Mpu Monaguna dan sebagainya.

Golongan Masyarakat Kerajaan Kediri

Masyarakat di masa Kerajaan Kediri dibagi menjadi tiga kedudukan, diantaranya yaitu :

  1. Golongan masyarakat pusat atau kerajaan : yaitu masyarakat yang ada di dalam lingkungan raja, dan beberapa kerabat yang ada di dalam kelompok pelayan.
  2. Golongan masyarakat thani atau daerah : yaitu golongan masyarakat yang terdiri dari petugas pemerintahan, atau pejabat yang ada di wilayah thani atau daerah.
  3. Golongan masyarakat non pemerintah : yaitu golongan masyarakat yang tidak memiliki kedudukan, dan hubungan dengan pemerintah ataupun masyarakat wiraswasta.

Kerajaan Kediri memiliki lebih dari 300 pejabat, yang tugasnya yaitu mengurus dan mencatat segala sesuatu penghasilan di dalam kerajaan. Ada juga 1000 pegawai rendahan yang tugasnya yaitu mengurus benteng, parit kota, perbendaharaan Kerajaan serta gedung tempat persediaan makanan. Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram, yang dilakukan oleh Raja Airlangga tahun 1000 sampai tahun 1049. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi perselisihan, yang dilakukan oleh anak-anak selirnya.

Baca Juga :   10 Tokoh Pergerakan Nasional Indonesia Terlengkap

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kediri

Kehidupan perekonomian di Kerajaan Kediri memiliki beberapa jenis usaha seperti perdagangan, pertanian dan juga peternakan yang dikenal sebagai penghasil kapas, beras dan ulat sutra. Hal ini menyebabkan kehidupan ekonomi Kerajaan Kediri terbilang makmur. Hal itu dapat dilihat dari kerajaan yang mampu memberikan penghasilan tetap, untuk para pegawainya berupa hasil bumi. Hal ini juga diperoleh dari keterangan Kitab Chi Fan Chi, dan Kitab Ling Wai Tai Ta.

Beberapa Raja Dari Kerajaan kediri

1. Airlangga (ketika Daha masih menjadi kota yang utuh)

Pendiri Kota Daha adalah pindahan dari Kota Kahuripan, yang turun tahta di tahun 1042. Sehingga kerajaan dibagi menjadi dua. Daha menjadi ibu kota Kerajaan Barat yaitu Panjalu. Menurut Nagarakretagama kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga, sebelum dibagi menjadi dua memiliki nama Panjalu.

2. Sri Samarawijaya ( ketika Daha sudah menjadi Ibu Kota Panjalu)

Sri Samarawijaya merupakan salah satu putra dari Airlangga, yang namanya juga ditemukan pada Prasasti Pamwatan di tahun 1042.

3. Sri Jayawarsa

Dilihat dari Prasasti  irah Keting tahun 1104, tidak diketahui apakah Sri Jayawarsa merupakan pengganti Sri Samarawijaya atau bukan. Di masa pemerintahannya Jayawarsa memberi hadiah untuk para rakyat di desa, sebagai wujud suatu penghargaan. Karena rakyat sudah berjasa pada raja. Di dalam prasasti tersebut disebutkan juga bahwa Jayawarsa memiliki perhatian yang besar pada rakyatnya, dan ingin membuat rakyat menjadi sejahtera.

4. Sri Bameswara

Berdasarkan Prasasti Padelegan di tahun 1117, Prasasti Panumbangan tahun 1120 dan juga Prasasti Tangkilan tahun 1130 menyebutkan raja berikutnya adalah Sri Bameswara. Prasasti-prasasti tersebut juga membahas tentang keagamaan.

5. Sri Jayabhaya

Raja terbesar di Kerajaan Panjalu berdasarkan Prasasti Ngantang tahun 1135, Prasasti Talan tahun 1136 serta Kakawin Bharatayuddha tahun 1157 adalah Jayabhaya. Kerajaan Kediri mencapai puncaknya di masa pemerintahan Jayabhaya, karena ia memiliki strategi yang bagus dalam memakmurkan rakyatnya. Kerajaan yang beribu kota di Dahono Puro di bawah kaki Gunung Kelud tersebut, memiliki tanah yang subur sehingga segala jenis tanaman bisa tumbuh dengan baik. Hasil pertanian dan perkebunan pun melimpah, selain itu di bagian tengah Kota terdapat aliran sungai yang jernih dan menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan. Makanan yang kaya akan protein pun bisa terpenuhi dengan baik. Dukungan spiritual dan material diberikan kepada Prabu Jayabhaya, dengan sifatnya yang merakyat dan tujuan yang jauh ke depan membuatnya dikenal sepanjang masa.

6. Sri Aryeswara

Berdasarkan prasasti Angin yang dibuat tahun 1171, ketika itu Kediri diperintah oleh Sri Aryeswara. Ia menjadi raja Kediri sekitar tahun 1171, dan memiliki gelar abhisek yaitu Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Tetapi tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Aryeswara naik tahta, dan peninggalan sejarahnya yaitu Prasasti Angin di tanggal 23 Maret 1171. Lambang Kerajaan Kediri di kala itu adalah Ganesha. Tidak diketahui pasti kapan Sri Aryeswara mengakhiri masa pemerintahannya.

7. Sri Ganda

Dilihat dari Prasasti Jaring tahun 1181. Pemakaian nama hewan untuk pangkat seperti misalnya gajah, tikus, dan kerbau memperlihatkan tinggi rendahnya pangkat seseorang di dalam istana saat itu.

8. Sri Sarwaswera

Dapat dilihat di Prasasti Padegelan II pada tahun 1159, dan Prasasti Kahyunan di tahun 1161. Sri Sarwaswera adalah raja yang taat beragama dan berbudaya. Ia juga memegang teguh prinsip “tat wam asi”, yang artinya  “dikaulah itu, dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau”. Prabu Sri Sarwaswera berpendapat bahwa tujuan akhir manusia adalah Moksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma dan jalan kebenaran merupakan suatu jalan untuk kesatuan sehingga yang menghalangi kesatuan adalah hal tidak baik.

9. Sri Kameswara

Berdasarkan Prasasti Ceker di tahun 1182, dan Kakawin Smaradahana. Di masa pemerintahan Sri Kameswara dari tahun 1182, sampai tahun 1185 masehi terjadi perkembangan yang pesat di dalam sastra Mpu Dharmaja. Yang membuat Kitab Smaradhana dan juga dikenal dengan beberapa cerita Panji seperti cerita Panji Semirang.

10. Sri Kertajaya

Berdasarkan Prasasti Galunggung tahun 1194, Prasasti Kamulan tahun 1194, Prasasti Palah tahun 1197, Prasasti Wates Kulon tahun 1205, Negarakretagama serta Pararaton. Raja Kertajaya ini dikenal dengan nama Dandang Gendis. Di masa pemerintahannya kerajaan mulai mengalami penurunan, karena Kertajaya mengurangi hak yang dimiliki Kaum Brahmana. Keadaan itu membuat Kaum Brahmana dan kedudukan mereka semakin tidak aman. Sehingga banyak dari mereka yang lari dan meminta pertolongan Tumapel, yang saat itu diperintah oleh Ken Arok. Kemudian Raja Kertajaya menyiapkan pasukan untuk menyerang Tumapel, dan Ken Arok memberi dukungan untuk Kaum Brahmana. Untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Kediri, kedua pasukan itu bertemu di dekat Ganter pada tahun 1222 Masehi.

Baca Juga :   BPUPKI : Sejarah, Tujuan, Anggota, Sidang Dan Pembubarannya Lengkap

Lencana Kerajaan Kediri

Setiap kerajaan yang ada di Indonesia memiliki lencananya masing-masing, yang menjadi simbol kekuasaan di masa-masa pemerintahannya. Termasuk di Kerajaan Kediri. Setiap raja memiliki lencana yang berbeda, dengan makna dan pesan yang juga berbeda-beda. Ada tujuh buah lencana yang terdeteksi, yang mewakilkan setiap kekuasaan raja tersebut.

Lencana pertama Garudmukhalancana

Lencana ini bergambar burung garuda, jauh sebelum NKRI menggunakan lambang garuda tersebut. raja Airlangga adalah pendiri dari Kerajaan Panjalu, yang memakai garuda sebagai lambang lencananya. Pada setiap Prasasti yang ada, selalu dibubuhkan stempel garudamukhalanaca tersebut oleh Airlangga. Yang berada di bagian mulut Gua Selomangleng Kediri. Hingga kini relief tersebut masih dapat dilihat.

Lencana kedua Bamecwaralancana

Lencana berikutnya memiliki lambang tengkorak yang sedang menggigit bulan sabit, yang dipakai sebagai lencana Cri Maharaja Cri Bamecwara Sakalabuanatustijarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayotunggadewa.

Lencana ketiga Jayabhayalancana

Lencana ini memiliki tanda satu avatara Dewa Wisnu yakni Narasinghavatara, yang memiliki wujud manusia berkepala singa yang sedang mencabik-cabik perut Hiranyakasipu [Raja Raksasa]. Di lencana tersebut terdapat tulisan Panjalu Jayati, yang bentuknya sudah sulit dikenali. Hingga kini disimpan di Musieum Nasional Jakarta.

Lencana keempat Sarwwecwaralancana

Lencana keempat dipakai oleh ri Maharaja Rakai Sirikan Cri Sarwwecwara Janarddhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayatungga-dewanama. Bila dilihat lagi di dalam lencana tersebut terdapat 9 sayap di bagian ujung, dan ada lingkaran berjambul yang dikelilingi oleh tiga lingkaran yang bergaris.

Lencana kelima Aryyecwaralancana

Lencana ini memiliki lambang ganesha yang digunakan oleh Cri Maharaja Rakai Hino Cri Aryyecwara Madhusudanawatarijaya Mukha, Sakalanhuana tustikarana niwaryya Parakramotunggadewanama.

Lencana keenam Kamecwaralancana

Lencana keenam memiliki gambar kerang yang memiliki sayap yang dipakai oleh Cri Maharaja Cri Kamecwara Triwikramawatara Aniwaryyawirya Parakrama Digjayotunggadewanama.

Lencana ketujuh Crnggalancana

Lencana ini dipakai oleh Cri Maharaja Cri Carwwecwara Triwikamawatara Nindita Cringgalancana Digjayotunggadewa atau Kertajaya. Yang menjadi raja terakhir di Kerajaan Panjalu.

Kehidupan Beragama Masyarakat Kediri

Corak kehidupan beragama pada masyarakat Kediri bisa dilihat dari peninggalan arkeologinya, seperti misalnya Candi Gurah serta Candi Tondo Wongso. Yang menunjukkan bahwa latar belakang agama di sana adalah Hindu Siwa. Untuk pertirtaan kepung diperkirakan juga beragama Hindu, karena tidak terlihat unsur Budhaisme pada beberapa peninggalan bangunan bersejarah di sana. Di beberapa prasasti yang ada, juga disebutkan bahwa nama Abhiseka raja memiliki arti penjelmaan dari Dewa Wisnu. Namun hal ini tidak dapat secara langsung digunakan sebagai bukti, bahwa Wisnuisme berkembang di masa itu. Karena landasan filosofis yang berkembang di Jawa pada masa itu, beranggapan bahwa Raja Saa dan Dewa Wisnu adalah pelindung rakyat, raja bahkan dunia. Bila dilihat lagi secara luas, agama Hindu khususnya pemujaan Siwa sangat mendominasi perkembangan agama di masa Kerajaan Kediri. Hal ini bisa dilihat dari prasasti, arca dan penemuan karya sastra jawa kuno.

Kesenian Masyarakat Kerajaan Kediri

Perubahan yang ada di bidang kesenian pada Kerajaan Kediri, hanya terbatas pada kesenian arsitektur. Yang banyak dipertanyakan oleh orang-orang, mengapa di masa Kerajaan Kediri tidak membuat candi seperti di masa-masa sebelum dan sesudahnya. Baru terbukti sekarang bahwa satu per satu kesenian dari Kerajaan Kediri mulai ditemukan. Candi Gurah adalah yang masih tersisa, yang memiliki pelipit sisi genta di kaki Candi Perwara. Sedangkan pada Candi Induk memiliki makara di bagian ujung bawah tangga, dan beberapa ciri itu menunjukkan gaya kesenian Jawa Tengah pada abad ke VII masehi.

Tetapi di beberapa arca yang sangat indah, juga memperlihatkan gaya kesenian yang berasal dari Singasari di abad XIII masehi. Perbedaan tersebut belum dapat dijelaskan secara gamblang sampai saat ini. Walaupun Candi Gurah juga pernah diperbesar tetapi di beberapa arca tidak berasal dari tahapan tersebut. terutama pada arca yang telah berumur dan belum juga ditemukan. Dari sumuran Candi telah ditemukan bata yang terinskripsi, dengan seni paleografi dan tulisannya berasal dari abad ke XI – XII masehi. Inkripsi singkat itu dapat digunakan sebagai patokan, dalam menentukan tanggal darii arca Gurah. Soejmono mengatakan bahwa Candi Gurah adalah mata rantai diantara kesenian di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Keruntuhan Kerajaan Kediri

Pada tahun 1222 raja Kertajaya berseteru dengan Kaum Brahmana, kemudian meminta perlindungan pada Ken Arok Akuwu Tumapel, Ken Arok juga memiliki cita-cita untuk membuat Tumapel merdeka dan menjadi daerah bawahan Kerajaan Kediri. Perang Kediri Tumapel terjadi di Desa Ganter, pasukan Ken Arok pun berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Sehingga Kerajaan Kediri mulai runtuh, dan berbalik menjadi bawahan Tumapel atau Singasari. Setelah Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya, Kediri pun menjadi di bawah wilayah kekuasaan Singasari. Ken Arok juga mengangkat Jayabhaya, putra Kertajaya untuk menjadi Bupati Kediri.

Di tahun 1258 Jayabhaya digantikan oleh putranya yang bernama Sastrajaya, kemudian di tahun 1271 Sastrajaya digantikan juga oleh putranya yaitu Jayakatwang. Jayakatwang melakukan pemberontakan pada Singasari, yang dipimpin oleh Ken Arok. Setelah membunuh Kertanegara, Jayakatwang pun membangun ulang Kerajaan Kediri. Tetapi kerajaan itu hanya bertahan 1 tahun saja, karena terjadinya serangan dari gabungan pasukan mongol dan pasukan menantu Kertanegara yaitu Raden Wijaya.

Demikian ulasan dan pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Kediri. Semoga dapat menambah wawasan anda dalam sejarah kerajaan di Indonesia.

Baca Juga :