Tulang Rawan (Kartilago) : Pengertian, Ciri, Komponen dan Fungsinya Lengkap

Posted on
5 (100%) 1 vote[s]

 Pengertian, Ciri, Komponen, Fungsi dan Proses Terbentuknya Tulang Rawan (Kartilago)

Kartilago – Tulang rawan atau Kartilago adalah salah satu jaringan ikat yang ada di dalam tubuh. Tulang rawan terbuat dari sel yang disebut dengan kondrosit, yang tertanam di dalam matriks yang diperkuat oleh serat kolagen dan terkadang oleh elastin. Hal itu tergantung pada jenisnya. Terdapat tiga jenis tulang rawan, diantaranya yaitu tulang rawan hialin, kartilago elastis, dan fibrokartilago. Jaringan tersebut berfungsi untuk menyediakan struktur dan juga dukungan untuk jaringan tubuh lainnya, tanpa keras atau kaku seperti halnya tulang. Tulang rawan juga akan memberikan efek bantalan pada sendi.

Jaringan Avaskular

Suatu jaringan dengan jenis avaskular artinya adalah hal itu tidak disediakan oleh pembuluh darah. Tapi sebaliknya nutrisi akan menyebar melalui matriks. Tulang rawan ini biasanya bersifat fleksibel, walaupun tetap tergantung pada jenisnya. Ada beberapa struktur tubuh yang menggunakan tulang rawan ini, diantaranya yaitu telinga, hidung, tulang rusuk, dan cakram intervertebralis.

Ciri Khas Tulang Rawan

  • Memiliki sel yang disebut dengan kondrosit dan kondroblas.
  • Tersusun atas serabut kolagen atau elastin.
  • Matriks atau bahan dasarnya yang mengeras kecuali pada tulang rawan fibrosa.
  • Tidak adanya pembuluh darah atau limfe, sehingga zat makanan dan oksigen akan menyebar dengan cara difusi. Jika terdapat pembuluh darah, biasanya hanya untuk melewati ke dalam perjalanannya yang menuju ke tempat lain.
  • Matriks, walaupun mengeras namun tetap lentur dan permeabel.

Komponen Dan Kandungan Tulang Rawan (Kartilago)

Bahan dasar dan komponen pada tulang rawan terdiri dari bahan yang bening, yang mengandung glikosaminoglikan. Yaitu kompleks protein khondromukoid, asam khondron sulfat dan asam hialuronat. Sama halnya dengan jaringan yang lainnya kartilago ini terdiri dari komponen sel tulang rawan, serabut-serabut, dan substansi dasar yang merupakan matriks. Berikut penjelasannya.

  1. Sel Kondrosit. Sel tulang rawan atau kartilago disebut dengan kondrosit, yang berasal dari dua kata yaitu chondros yang artinya rawan dan kytos yang artinya sel. Beberapa sel tersebut berada dalam ruang kecil yang dibatasi oleh matriks, yang kemudian disebut dengan lacuna. Di beberapa tempat lacuna ini berisi sebuah kondhrosit, sedangkan di dua tempat yang lainnya berisi dua atau lebih kondrosit. Kondrosit memiliki inti yang khas, dengan bentuk bundar dan dengan satu sampai dua nucleoli. Di dalam keadaan hidup sitoplasma kondrosit ini akan mengisi seluruh ruang lacuna, namun dalam sediaan yang sudah difiksasi dan diwarnai. Sitoplasma pun akan mengerut sampai terlihat gambaran batas sel yang berduri, karena beberapa bagiannya masih melekat pada dinding lacuna. Di permukaan kartilago pada umumnya, terdapat juga jaringan pengikat padat fibrosa yang disebut dengan perichondrium, kecuali pada permukaan sendinya.
  2.  Sel Kondroblas dan fibroblas. Keduanya adalah sel bakal yang bentuknya oval yang letaknya berada di pinggir dari kartilago. Kondroblas juga merupakan bakal sel kartilago atau dinamakan sel muda tulang rawan.
  3. Substansi interseluler. Substansi interseluler terdiri atas komponen fibriler dan substansi dasar, matriks amorf “gel”.
  4. Perikondrium. Adalah sebuah jaringan pengikat yang membungkus kartilago, yang terdiri atas sel fibrosit dengan bentuk gepeng, yang diantaranya terdapat serat kolagen. Kartilago ini terbentuk dengan sel mesenkim. Di bagian pusat terdapat ciri kondrosit, sedangkan sel perifer mempunyai ciri kondroblas. Mesenkim superficial kemudian berkembang menjadi kondroblas dan fibroblas, yang berasal dari perkondrium.
Baca Juga :   8 Macam Zat Aditif Pada Makanan Cepat Saji dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Pembentukan Jaringan Tulang Rawan

Kartilago dibentuk oleh sebuah jaringan yang bernama mesenkim, sama halnya dengan jaringan pengikat yang lainnya. Di daerah pembentukan kartilago pada awalnya, sel jaringan mesenkim ada pada substansi amorf yang mengandung komponen yang sudah terbentuk. Sel itu lalu saling mendekat disertai dengan hilangnya tonjolan, sehingga sel akan berubah bentuk menjadi bulat. Batas selnya menjadi kurang jelas, dan intinya akan saling berdekatan. Pertumbuhan kartilago ini bisa terjadi dengan dua proses, yaitu dengan Pertumbuhan interstisial yang diakibatkan oleh pembelahan mitosit dari beberapa kondrosit yang ada. Lalu melalui pertumbuhan asposisi, yang diakibatkan oleh sel perkondrium.

Pengelompokkan Tulang Rawan

Kartilago hialin / hyaline

Kartilago hyalin keadaannya segar, terlihat putih dan bening, lentur, semi transparan, dan warnanya putih kebiruan. Kata hialin itu sendiri berasal dari kata hyalos atau gelas seperti halnya kaca. Sifatnya disebabkan oleh terdapat substansi interseluler yang terkandung di dalamnya. Pada kartilago hialin ini mengandung serat kolagen yang halus yang jumlahnya sedang. Tulang rawan inilah yang paling banyak ada di dalam tulang. Tulang rawan ini juga merupakan rangka utama dari embrio, yang kemudian digantikan oleh tulang yang keras. Pada anak-anak terdapat tulang pipa yang sedang tumbuh, yang berupa kepingan yang secara berangsur-angsur akan berubah mengalami proses penulangan atau osifikasi. Di bagian permukaannya terdapat perikondrium, yaitu suatu jaringan ikat yang di waktu muda mampu membentuk tulang rawan dengan cara aposisi. Pada saat dewasa tulang rawan tersebut terdapat pada dinding saluran pernapasan, yaitu dari bagian rongga hidung sampai ke bronchi, ujung tulang rusuk dan juga di permukaan tulang yang ada di daerah persendian. Di tulang rawan ini tidak terdapat pembuluh darah, jika pun ada artinya terdapat perkapuran di sana. Secara fisiologik klasifikasi, hal itu sering terjadi pada tulang rawan rusuk.

Baca Juga :   Sistem Otot Manusia : Pengertian, Sistem dan Fungsinya Lengkap

Kartilago elastin / elastic

Kartilago ini berwarna kekuningan, kandungannya selain serat kolagen juga terdapat serat elastik. Teksturnya lebih kenyal daripada jenis tulang rawan lainnya karena mengandung banyak serat elastik. Kartilago ini sebagian besar memiliki bangun histology, yang mirip dengan tulang rawan hialin tetapi yang berbeda dengan serabutnya. Sel pada tulang rawan ini hampir sama dengan kondrosit, yang ada pada kartilago hialin. Yaitu bentuknya bundar dan berada di lacuna dengan membentuk beberapa sel isogen. Serabut elastik akan membuat anyaman di interteritorial mastriks secara merata. Serabut elastik yang bercabang dan susunannya tidak searah akan menuju permukaan jalinan serabut yang semakin tipis. Sebaliknya semakin ke dalam maka jalinannya akan semakin pekat, anyamannya semakin rapat dan substansinya pun tertutup. Pengapuran pada tulang rawan elatin ini jarang terjadi, tetapi bisa terjadi di usia tua. Jaringan ini terdapat di kuping atau daun telinga, dinding saluran telinga bagian luar, tuba eustachii, epiglottis dan sebagian kerangka larynx. Kartilago ini juga biasanya lebih sulit untuk mengalami proses degenerasi.

Kartilago Fibrosa

Kartilago fibrosa tersusun atas beberapa serabut kolagen yang padat, sebagai anyaman di dalam matriksnya, bahkan beberapa diantaranya membentuk berkas yang tebal dan hampir mendesak pada substansi dasar yang homogen. Matriksnya relatif sedikit, dan pada umumnya dikelilingi oleh perikondrium. Jaringan ini jumlahnya tidak terlalu banyak ditemukan dalam tubuh, salah satunya ada di discus intervertebralis, beberapa Kartilago articularis, symphysis osseum pubis, ligamentum teres femoris, tempat perlekatan beberapa tendo pada tulang atau terdapat di beberapa daerah sebagai pulau-pulau dalam jaringan pengikat padat. Di kartilago ini terdapat kondrosit yang letaknya juga di lacuna yang berada secara berkelompok atau sendiri, dan dikelilingi oleh matriks tersebut tetapi bentuknya masih dipertahankan. Sehingga banyak juga yang tertukar dengan jaringan ikat padat, agar lebih mudah membedakan kartilago fibrosa dengan jaringan ikat padat, maka kartilago fibrosa ini terdapat di lacuna yang ditempati oleh beberapa selnya.

Baca Juga :   Klasifikasi Makhluk Hidup : Manfaat, Tujuan Dan Tingkatannya Lengkap

Proses Terbentuknya Tulang Rawan

  1. Pertumbuhan yang terjadi pada stadium embrio dari blastema tulang rawan, yang berupa sel mesenkim yang berproliferasi dan juga akan membesar.
  2. Pertumbuhan setelah kelahiran yang asanya dari perikondrium.

Sel bastema pada pra tulang rawan sifatnya basofil, karena berkembangnya retikulum endoplasmik kasar, yang disebut dengan kondroblast. Kondroblast akan menghasilkan  fibril kolagen dan matriks. Pembentukan matriks juga terus berlangsung di bagian tengahnya, sehingga sel itu akan terpisah satu dengan yang lainnya lalu menjadi kondrosit. Di bagian tepi kondroblast akan terus terjadi aktivitas dalam membentuk tulang rawan. Sehingga tulang rawan yang awalnya terjadi berbentuk pulau dan sel-selnya tersebar di dalam matriks. Di bagian tepinya dibalut oleh bakal perikondrium yang mengandung kondroblast, sedangkan di bagian tengah kondrosit belum membentuk zimogen. Di luar pulau tulang rawannya masih berupa mesenkim.

Pola pertumbuhan pada tulang rawan dibagi menjadi dua cara, yaitu :

  1. Pertumbuhan interstitial. Yang melalui ekspansi dari dalam dengan cara pembelahan kondroist yang berulang. setiap kondrosit yang terbentuk akan terpisah dan membentuk kapsulanya sendiri. cara ini terdapat pada kehidupan embrio, yang nantinya akan dilanjutkan dengan pertumbuhan aposisi.
  2. Pertumbuhan aposisi. Yaitu penambahan luas areal pada tulang rawan yang berlangsung di bagian tepinya, kondroblast pun akan berkembang menjadi perkondrium, dan beberapa kali membelah menjadi kondrosit. Pola pertumbuhan aposisi ini bisa berlangsung di stadium embrio atau dewasa. Di stadium embrio mesenkim akan berkembang menjadi kondroblast, lalu membentuk kondrosit. Di stadium pasca nata fibroblast pada perikondrium akan berkembang kondroblast, dan kemudian menjadi kondrosit. Pertumbuhan aposisi ini juga sering disebut dengan pertumbuhan subperikondrium. Dengan semakin meningkatkan umur dari tulang rawan, maka matriks akan mulai mengeras, dan kondrosit akan terus membelah dan membentuk kelompok isogen. Kondromukoid yang dihasilkan oleh beberapa sel baru dan sisa kapsula, diduga akan membentuk teritorial matriks yang sifatnya basofil. Sedangkan pada interteritorial matriks, kolagen akan meningkat dengan adanya fibril. Sedangkan basofil akan menurun.

Demikian penjelasan lengkap tentang kartilago. Semoga dapat dipahami dan menambah wawasan anda.

Baca Juga :